MERANGIN, Britainaja – Suasana penuh semangat mewarnai hari terakhir proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp) Merangin-Jambi pada Kamis (13/8).
Dua pakar dunia, Prof. Dr. Yongmun Jeon dari Korea Selatan dan Mr. Nicolas Klee dari Prancis, turun langsung mengelilingi enam titik penting di Kabupaten Merangin.
Dalam penelusuran ini, General Manager Geopark Merangin-Jambi, Agus Zainudin, bersama tim Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mendampingi kedua pakar tersebut secara teliti.
Perjalanan mengesan ini bermula dari Danau Pauh di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat. Kedua evaluator menikmati hembusan angin segar sambil menyusuri danau menggunakan perahu kayu. Mereka mengamati pohon pauh yang menjadi cikal bakal nama danau tersebut.
Tak sekadar menikmati pemandangan, tim pakar ini berdialog hangat bersama masyarakat lokal. Mereka menggali kisah bagaimana kehadiran tempat wisata ini mampu mendongkrak perekonomian warga, mulai dari penginapan hingga usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Perjalanan berlanjut ke Desa Rantau Kermas. Di sana, rombongan berdiri di depan Tugu Kalpataru. Tugu ini menjadi bukti nyata keberhasilan warga setempat menjaga kelestarian hutan adat seluas 130 hektar secara turun-temurun.
Tak jauh dari situ, tim meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran Sungai Batang Langkup. Fasilitas ini membuktikan bahwa menjaga hutan justru menghadirkan kemandirian energi bagi warga sekitar.
Kehangatan budaya makin terasa saat kedua pakar melangkah mengagumi arsitektur Rumah Tuo serta melihat hasil panen kayu manis dan kopi warga.
Tim evaluator kemudian singgah ke rumah produksi Kopi Lembah Mentenang di Desa Muara Madras. Kopi unggulan ini tumbuh subur di tanah kaya nutrisi hasil letusan gunung purba kawasan Gunung Masurai.
Melangkah ke Kecamatan Lembah Masurai, rombongan mendatangi Basecamp Mount Masurai di Desa Sungai Lalang. Mereka mempelajari rute pendakian serta kekayaan hayati yang tersembunyi di gunung tersebut.
Keamanan warga juga menjadi perhatian. Tim menyempatkan diri mengecek alat pendeteksi gempa BMKG di Desa Tuo. Alat ini berfungsi menjaga keselamatan warga melalui sistem peringatan dini. Perjalanan berkesan ini akhirnya ditutup dengan menikmati cantiknya Air Terjun Sigerincing, sebuah bentukan alam megah hasil aktivitas purba Gunung Masurai.
Penerjemah dari Balai Bahasa Jambi, Lukman, menyebutkan bahwa seluruh rangkaian kunjungan lapangan berjalan dengan sangat lancar.
“Para evaluator sudah melihat langsung seluruh potensi alam dan budaya kita. Mereka telah mengantongi berbagai catatan penting untuk penilaian revalidasi ini. Hasil akhirnya akan mereka paparkan secara resmi dalam progress report di kantor BP Geopark Merangin Jambi,” ungkap Lukman. (Tim)






