Britainaja – Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat dengan karakter yang beragam. Salah satu yang paling unik adalah Nu’aiman bin Umar Al-Ansary. Buku Karamah Para Wali karya A. R. Shohibul Ulum menggambarkan Nu’aiman sebagai sosok yang sangat jenaka.
Tingkah konyolnya sering kali menghadirkan tawa di tengah para sahabat, bahkan membuat Rasulullah SAW tersenyum geli meski kadang bikin repot.
Salah satu aksi Nu’aiman yang paling melegenda adalah saat ia nekat menyembelih unta milik tamu Rasulullah.
Ide Jahil di Luar Masjid
Cerita bermula ketika seorang pria Badui datang ke masjid mengendarai unta yang gemuk. Pria tersebut menambatkan untanya di bawah pohon kurma, lalu masuk ke dalam masjid untuk menemui dan berbincang dengan Rasulullah SAW yang sedang berzikir.
Sementara itu, Nu’aiman bersama beberapa sahabat lain sedang berkumpul di luar masjid. Mata mereka tertuju pada unta gemuk milik si Badui. Tiba-tiba, seorang sahabat melontarkan ide yang tak terduga.
“Bagaimana kalau kita sembelih saja unta itu?” usul sahabat tersebut.
Nu’aiman menanggapi dengan santai, “Ide bagus. Tapi kalau ketahuan, siapa yang mau bayar ganti rugi?”
Sahabat tersebut menjawab dengan penuh keyakinan, “Urusan gampang. Kan ada Rasulullah. Beliau pasti menyelesaikan semuanya.”
Mendengar hal itu, Nu’aiman langsung setuju. Bagi Nu’aiman, Rasulullah adalah solusi terbaik untuk segala masalah. Tanpa ragu, ia segera mengambil golok dan menyembelih unta gemuk tersebut sebelum pemiliknya keluar.
Kepanikan Pemilik Unta dan Respons Rasulullah
Begitu keluar dari masjid, pria Badui tersebut terkejut melihat untanya sudah tidak bernyawa. Ia langsung berteriak histeris meminta pertanggungjawaban.
“Untaku, Muhammad! Untaku disembelih oleh lelaki keparat itu!” teriak si Badui dengan marah.
Mendengar keributan itu, Rasulullah SAW segera keluar dan mencari tahu siapa pelaku di balik kejadian ini. Tanpa ragu, para sahabat langsung menunjuk satu nama: Nu’aiman.
Mengetahui dirinya menjadi buronan, Nu’aiman langsung mengambil langkah seribu. Ia bersembunyi di rumah Ziba’ah binti Zubair, menyelinap ke sebuah ruangan kosong, dan menutupi tubuhnya dengan tumpukan daun kurma.
Akhir Cerita yang Penuh Kedamaian dan Tawa
Rasulullah SAW akhirnya berhasil menemukan tempat persembunyian Nu’aiman. Beliau langsung menanyakan alasan di balik tindakan nekatnya tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu menyembelih unta orang Badui itu?” tanya Rasulullah dengan nada serius.
Sambil tertawa tanpa dosa, Nu’aiman menjawab, “Mereka, para sahabat di masjid yang menyuruh saya, Ya Rasulullah. Mereka bahkan bilang kalau orang Badui ini minta ganti rugi, Rasulullah yang akan bertanggung jawab.”
Mendengar jawaban jujur namun menggelitik tersebut, Rasulullah SAW hanya bisa menghela napas panjang, menggelengkan kepala, dan tersenyum. Beliau kemudian melunasi ganti rugi unta tersebut kepada si pria Badui.
Di balik sifatnya yang jahil dan merepotkan, Rasulullah SAW sangat menyayangi Nu’aiman. Beliau bahkan pernah bersabda bahwa kelak Nu’aiman akan masuk surga sambil tertawa. Kisah ini mengajarkan kita tentang bagaimana Rasulullah menyikapi kesalahan sahabatnya dengan penuh kebijaksanaan, kasih sayang, dan kelapangan dada. (Tim)






