Britainaja – Matahari siang itu menyengat Jalan Nanggerang, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat. Dari luar, rumah produksi Keripik Cipuy Renyah terlihat seperti kediaman biasa. Namun, aroma gurih minyak panas langsung menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke dalam ruangan yang sibuk itu.
Di salah satu sudut, delapan perempuan duduk melingkar di atas lantai. Tangan mereka bergerak lincah memasukkan keripik singkong ke dalam plastik kemasan, sesekali menyelingi kerja keras mereka dengan tawa renyah.
Di antara mereka, duduklah Encih (44), sang pemilik usaha. Perempuan berjilbab hijau ini ikut jongkok merapikan kemasan sambil memantau ritme kerja para karyawannya. Tidak jauh dari sana, seorang pria lansia cekatan mengangkat keripik emas dari wajan raksasa menggunakan saringan besar.
Modal Awal dari Pengalaman Kerja
Encih merintis bisnis ini pada 2019 dengan modal awal Rp 15 juta. Uang yang ia kumpulkan dari pinjaman keluarga itu mengalir untuk membeli kompor, wajan besar, minyak goreng, dan bahan baku utama. Sebelum mandiri, Encih menimba ilmu dengan bekerja pada orang lain yang menggeluti usaha sejenis.
“Waktu itu saya hanya berpikir, yang penting usaha ini bisa jalan dulu,” kenang Encih penuh syukur.
Awalnya, Encih hanya memproduksi satu kuintal keripik per minggu. Pasar merespons positif, hingga kapasitas produksinya melonjak jadi dua kuintal, lalu melesat hingga dua ton seminggu.
Namun, badai pandemi Covid-19 sempat menghentikan langkahnya. Warung-warung mitra mendadak sepi, dan tumpukan produk kembali ke rumahnya karena tidak laku. Usaha Encih mati suri dan kembali ke titik nol. Kegigihan Encih yang membuat bisnis ini selamat; ia memutar kembali sisa tabungan dan mengandalkan beberapa reseller setia hingga roda produksi kembali berputar normal.
Melejit Bersama KUR BRI
Saat situasi pasar mulai pulih pada tahun 2022, Encih mengambil langkah berani dengan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 25 juta. Langkah ini mengubah arah bisnisnya.
“Saya memfokuskan dana itu untuk menambah bahan baku dalam jumlah besar, bukan membeli alat,” jelas Encih.
Sebelum mendapat suntikan modal, Encih menerapkan sistem tunggu; ia baru memproduksi keripik baru setelah stok lama habis terjual. Strategi hati-hati ini membuat bisnisnya lambat berkembang. Setelah KUR BRI cair, ia langsung membeli bahan baku skala besar dan memperluas jaringan pasar hingga menembus Jakarta.
Kini, dapur produksinya melahap dua hingga tiga ton singkong setiap minggu. Puas dengan layanan pertama, Encih mengambil langkah top up KUR sebesar Rp 50 juta untuk mengamankan stok bahan baku di tengah harga pasar yang fluktuatif.
Keuntungan Berlipat: Borong Tanah Hingga Mobil
Kerja keras Encih membuahkan hasil manis. Omzet awal yang dahulu hanya Rp 6 juta per bulan, kini meroket stabil di angka Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.
Keuntungan ini berhasil mengubah kesejahteraan keluarganya. Encih kini mampu membeli tanah di samping rumah produksi untuk memperluas area kerja yang semula sempit. Ia juga membeli mobil operasional untuk menggantikan sepeda motor yang selama ini kewalahan mengantar pesanan, terutama menjelang musim Lebaran.
Asal-usul nama “Cipuy” sendiri ternyata merupakan nama panggilan masa kecil Encih yang diusulkan oleh para keponakannya. Kini, merek Cipuy Renyah telah mengantongi sertifikat halal berkat bantuan BRI, serta mendapat kucuran hibah alat produksi senilai Rp 8 juta dari program YBM BRILiaN.
Misi Sosial: Merangkul Janda dan Lansia
Cipuy Renyah bukan sekadar mesin pencetak uang bagi Encih, melainkan juga tumpuan hidup warga sekitar. Encih sengaja mempekerjakan ibu rumah tangga, janda, hingga lansia setempat dengan sistem upah borongan yang cair setiap 10 hari sekali. Pekerja yang cepat bisa mengantongi hingga Rp 60 ribu per hari.
Salah satu pekerjanya adalah Saani (66). Nenek yang kehilangan suaminya ini sudah delapan tahun menggantungkan hidup dengan mengiris singkong di tempat Encih untuk menghidupi cucunya.
“Kalau tidak kerja di sini, saya bingung harus ke mana lagi,” ungkap Saani lirih.
Keberadaan para pekerja setia inilah yang memicu semangat Encih untuk terus bertahan melewati masa-masa sulit. Masa depan Cipuy Renyah kini mengarah pada target yang lebih besar: merambah pasar luar Pulau Jawa.
UMKM Penopang Utama Kredit BRI
Kisah sukses Encih sejalan dengan komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang terus fokus menyokong sektor ekonomi kerakyatan. Hingga Kuartal I 2026, pembiayaan sektor UMKM tetap mendominasi portofolio kredit BRI.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa total kredit BRI pada awal tahun 2026 tumbuh 13,7 persen secara tahunan (YoY) mencapai Rp 1.562 triliun.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery di Jakarta.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026 saja, BRI sukses menyalurkan dana KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah. Sektor pertanian menyerap angka tertinggi yaitu Rp 19,86 triliun (42,16 persen). Langkah nyata ini terbukti menjadi katalis kuat dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menaikkan kelas para pelaku usaha mikro di Indonesia.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Berapa harga produk Keripik Cipuy Renyah?
Keripik Cipuy Renyah menjual produknya dengan harga Rp 12 ribu untuk kemasan 400 gram, dan Rp 25 ribu untuk kemasan satu kilogram.
2. Di mana lokasi rumah produksi Keripik Cipuy Renyah?
Rumah produksinya berada di Jalan Nanggerang, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
3. Bagaimana cara memesan Keripik Cipuy Renyah?
Konsumen bisa memesan secara langsung melalui jaringan reseller, media sosial, atau melalui pencarian Google Maps yang dikelola oleh anak Encih.
4. Apakah produk Keripik Cipuy Renyah sudah memiliki izin resmi?
Ya, Keripik Cipuy Renyah sudah resmi memiliki sertifikat halal yang proses pengurusannya mendapatkan bantuan langsung dari pihak BRI. (Tim)






