Britainaja – Siapa sebenarnya orang pertama dari Indonesia yang menginjakkan kaki di Tanah Suci? Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi sejarah Islam di Nusantara. Namun, jawabannya ternyata menyimpan lembaran sejarah yang sangat kaya dan tidak sekadar satu nama saja.
Alih-alih bermula dari ulama besar, jejak awal haji Indonesia justru lahir dari keberanian para saudagar, pelaut, dan kaum bangsawan. Mereka menembus batas samudera demi sebuah pencarian spiritual yang luar biasa.
Jejak Awal: Antara Fakta dan Cerita Rakyat
Hubungan Nusantara dengan Timur Tengah sebenarnya sudah mekar sejak abad awal Masehi. Para pedagang dari Arab, Persia, dan India rutin singgah di pelabuhan-pelabuhan besar kita.
Moeflich Hasbullah dalam bukunya, Islam & Transformasi Masyarakat Nusantara, menjelaskan bahwa interaksi intens ini membuka peluang besar bagi masyarakat lokal untuk mengenal ibadah haji lebih awal. Bahkan, sejarah mencatat komunikasi antara Raja Sri Indravarman dari Sriwijaya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada abad ke-8. Meski belum ada bukti fisik yang kuat, banyak yang meyakini sang raja mungkin saja telah melakukan perjalanan ke Makkah.
Haji Purwa: Sang Pelopor dari Tanah Sunda
Dalam tradisi masyarakat Sunda, nama Haji Purwa menempati posisi istimewa sebagai pionir. Ia memiliki nama asli Bratalegawa, seorang putra bangsawan dari Kerajaan Galuh yang lahir sekitar tahun 1350 M.
Namun, Bratalegawa memilih jalan hidup yang berbeda. Ia menekuni dunia perdagangan dan berlayar hingga ke India, Persia, dan Jazirah Arab. Di sanalah ia memeluk Islam setelah bertemu dengan seorang perempuan Muslim dari Gujarat.
Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali ke tanah air dan menyandang gelar “Haji Purwa”, yang secara harfiah berarti “Haji Pertama”. Namanya abadi dalam naskah klasik seperti Carita Parahiyangan dan Naskah Wangsakerta.
Tokoh Lain dalam Catatan Sejarah
Selain Haji Purwa, para peneliti menemukan beberapa nama lain yang tercatat dalam dokumen yang lebih kuat:
-
Laksamana Malaka: Sejarawan Henri Chambert-Loir menyebut seorang laksamana dari Malaka yang berhaji pada tahun 1482.
-
Pangeran Abdul Dohhar: Putra Sultan Ageng Tirtayasa ini berangkat ke Makkah sekitar tahun 1630 bersama rombongan pedagang besar.
Haji: Jalinan Dagang dan Dakwah
Menariknya, sejarah haji kita bukan sekadar perjalanan ibadah. Haji pada masa itu adalah bagian dari jaringan global. Para pelaut Muslim tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga menjalin ikatan pernikahan dan menyebarkan ajaran Islam di sepanjang jalur pelayaran.
Perjalanan ini pun bukan tanpa risiko. Sebelum teknologi modern hadir, jamaah harus bertaruh nyawa di laut selama berbulan-bulan, menghadapi cuaca ekstrem, hingga ancaman penyakit. Tak heran jika mereka yang berhasil pulang mendapat penghormatan tinggi sebagai sosok yang tangguh secara fisik dan mental.
Mengapa Sulit Menunjuk Satu Nama?
Hingga saat ini, sejarawan sulit memastikan satu nama absolut karena beberapa alasan:
-
Minimnya Dokumen Tertulis: Banyak catatan awal hanya berupa tradisi lisan atau naskah lokal.
-
Identitas Bangsa: Saat itu “Indonesia” belum ada; yang ada hanyalah kerajaan-kerajaan yang tersebar.
-
Mobilitas Tinggi: Banyak orang bepergian tanpa dokumentasi resmi, sehingga jejak mereka sulit terlacak secara administratif.
Warisan Peradaban
Pada akhirnya, mencari siapa “yang pertama” hanyalah pintu masuk untuk memahami proses besar Islamisasi di Indonesia. Sosok seperti Haji Purwa dan para pelaut anonim lainnya telah membuka jalan bagi jutaan jamaah haji Indonesia saat ini. Mereka membuktikan bahwa niat yang kuat mampu melampaui batas samudera dan waktu, membentuk identitas spiritual bangsa yang kita kenal sekarang. (Tim)






