Bolehkah Menikah Pada Hari Tasyrik? Ini Penjelasan Lengkapnya

Hukum Menikah di Hari Tasyrik Menurut Islam

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Pasangan Pengantin Yang Melangsungkan Pernikahan. Gemini

Ilustrasi - Pasangan Pengantin Yang Melangsungkan Pernikahan. Gemini

Britainaja – Pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul setiap momen Idul Adha atau Hari Raya Kurban adalah mengenai hukum melangsungkan pernikahan pada hari Tasyrik. Sebagian masyarakat masih ragu dan bertanya-tanya, apakah umat Muslim boleh menikah pada hari-hari tersebut? Bagaimana sebenarnya pandangan hukum Islam mengenai hal ini?

Hari Tasyrik merupakan tiga hari istimewa setelah Idul Adha, tepatnya tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada tahun 2026 ini, Hari Tasyrik jatuh pada tanggal 28 hingga 30 Mei 2026, menyusul perayaan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H yang jatuh pada 28 Mei.

Ulasan berikut ini merujuk pada berbagai sumber kredibel, termasuk jurnal ilmiah Hikmatut Tasyri’ Pernikahan Perspektif Hukum Islam karya Nurliana, serta penelitian Tradisi Menikah pada Hari Raya dan Idul Adha Perspektif Hukum Islam oleh Novi Trianingrum dan Masruri.

Menepis Mitos “Hari Sial” dalam Islam

Sebagian kelompok masyarakat masih menganggap hari Tasyrik sebagai waktu yang kurang baik atau “hari sial” untuk menggelar hajatan besar seperti pernikahan. Dalam ajaran Islam, mempercayai adanya hari sial atau meramal nasib buruk berdasarkan waktu tertentu masuk dalam kategori tathayyur (thiyarah). Islam melarang keras keyakinan semacam ini.

Prinsip dasar dalam Islam menegaskan bahwa semua hari adalah baik. Tidak ada satu pun hari yang membawa kesialan. Rasulullah SAW bahkan pernah mencontohkan cara melawan mitos keliru ini secara langsung.

Pada zaman dahulu, masyarakat Jahiliah menganggap bulan Syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Untuk mematahkan keyakinan keliru tersebut, Rasulullah SAW justru menikahi Siti Aisyah RA di bulan Syawal. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menegaskan bahwa anggapan makruh menikah di bulan Syawal adalah kebatilan tanpa landasan yang berasal dari tradisi Jahiliah.

Baca Juga :  Hal Makruh saat Puasa yang Jarang Disadari Umat Muslim

Hari Tasyrik: Larangan Berpuasa, Bukan Larangan Menikah

Hari Tasyrik adalah momen bagi umat Muslim untuk menikmati hidangan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Berdasarkan dalil shahih ini, para ulama sepakat bahwa larangan utama pada hari Tasyrik adalah berpuasa. Larangan puasa bertujuan agar umat Muslim dapat menikmati daging kurban dan mensyukuri nikmat pangan dari Allah SWT.

Lalu, bagaimana dengan akad nikah atau pesta pernikahan (walimatul ursy)? Hukum Islam menyatakan bahwa menikah di hari Tasyrik hukumnya adalah boleh (mubah) dan sah secara syariat. Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an maupun hadis yang melarang umat Muslim melangsungkan akad nikah atau resepsi pada hari-hari tersebut.

Larangan berpuasa justru memberikan keuntungan tersendiri untuk acara pesta pernikahan. Para tamu undangan dapat menyantap hidangan pondokan dengan bebas tanpa terhalang ibadah puasa.

Siapa yang Tidak Boleh Menikah di Bulan Dzulhijjah?

Asumsi keliru mengenai larangan menikah di bulan Dzulhijjah biasanya muncul karena pemahaman yang tumpang tindih mengenai syariat haji. Islam memang melarang seseorang untuk menikah, menikahkan, atau melamar di bulan Dzulhijjah, namun aturan ini hanya berlaku bagi orang yang sedang dalam keadaan ihram (melaksanakan ibadah haji atau umrah).

Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sabdanya:

“Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan.” (HR. Muslim).

Bagi masyarakat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, larangan ini sama sekali tidak berlaku. Anda bebas melangsungkan pernikahan kapan saja di bulan Dzulhijjah, termasuk pada Hari Raya Idul Adha maupun hari Tasyrik.

Menikah di Hari Raya Jadi Solusi Praktis Adat

Menariknya, sebagian masyarakat Indonesia justru memburu momen Hari Raya dan hari Tasyrik sebagai waktu utama untuk menikah. Penelitian Novi Trianingrum dan Masruri (2022) dalam Jurnal Al Wasith merekam fenomena unik di Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap.

Baca Juga :  Mengungkap Sosok Misterius Haji Pertama dari Nusantara

Data KUA Kecamatan Kesugihan menunjukkan lonjakan angka pernikahan yang sangat tajam pada momen Idul Adha. Mengapa fenomena ini terjadi? Berikut beberapa alasan sosiologisnya:

  • Menghindari Kerumitan Primbon: Dalam adat Jawa, menentukan tanggal pernikahan biasanya membutuhkan perhitungan weton (neptu hari lahir) yang rumit untuk menghindari hari buruk. Masyarakat menganggap Hari Raya dan hari Tasyrik sebagai “Hari Bebas”—waktu yang suci dan mulia secara otomatis, sehingga tidak memerlukan hitungan rumit lagi.

  • Momen Kumpul Keluarga: Hari raya keagamaan menjadi waktu saat sanak saudara dari perantauan mudik ke kampung halaman. Hal ini membuat acara pernikahan menjadi lebih efisien dan meriah karena seluruh keluarga besar dapat hadir.

Dalam hukum Islam, tradisi memanfaatkan hari-hari mulia untuk menikah ini masuk dalam kategori Al-‘Urf al-Shahih (adat kebiasaan yang baik dan membawa kemaslahatan).

Hakikat Pernikahan dalam Islam

Pernikahan bukan sekadar urusan administrasi atau pemenuhan kebutuhan biologis. Artikel ilmiah karya Nurliana (2023) dalam Jurnal Mediasas menjelaskan bahwa pernikahan adalah institusi mulia yang berfungsi sebagai benteng keselamatan hidup manusia.

Islam menyariatkan pernikahan untuk tujuan agung, seperti mengikuti sunnah Rasulullah SAW, menjaga kehormatan diri dari zina, serta mewujudkan ketenteraman jiwa (sakinah). Jika seseorang khawatir terjerumus dalam kemaksiatan karena menunda pernikahan, maka hukum melangsungkan pernikahan dapat berubah menjadi wajib. Oleh karena itu, Islam memberikan kelonggaran waktu agar ibadah mulia ini dapat segera terlaksana tanpa halangan mitos hari sial. (Tim)

Berita Terkait

7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Pandangan Hukum Islam dan Undang-Undang, Terkait Hukuman Mati untuk Koruptor
Fakta Tinggi Nabi Adam AS Menurut Hadis Sahih dan Perkiraan Panjang Langkah Kakinya
3 Amal Jariyah yang Bikin Pahala Terus Mengalir Setelah Meninggal Dunia
10 Peristiwa Besar Bulan Safar: Bukti Sejarah Islam yang Mematahkan Mitos Sial
Menatap Masa Depan Jiwa: 5 Renungan Alam Kubur yang Menggugah Hati
7 Amalan Setelah Sholat Dhuha Agar Rezeki Mengalir Deras
Doa Pembukaan MPLS 2026 Untuk Siswa Baru yang Menyentuh Hati
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:03 WIB

7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna

Rabu, 22 Juli 2026 - 06:00 WIB

Pandangan Hukum Islam dan Undang-Undang, Terkait Hukuman Mati untuk Koruptor

Senin, 20 Juli 2026 - 15:10 WIB

Fakta Tinggi Nabi Adam AS Menurut Hadis Sahih dan Perkiraan Panjang Langkah Kakinya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:03 WIB

3 Amal Jariyah yang Bikin Pahala Terus Mengalir Setelah Meninggal Dunia

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:15 WIB

10 Peristiwa Besar Bulan Safar: Bukti Sejarah Islam yang Mematahkan Mitos Sial

Berita Terbaru

Samsung Galaxy Z Flip 8 & Fold 8 Series. (Duniagames)

Tech & Game

Bocoran Harga Samsung Galaxy Z Flip 8 & Fold 8 Series di Indonesia

Kamis, 23 Jul 2026 - 06:07 WIB

Digimon UP . (Duniagames)

Tech & Game

Cara Mudah Mengatasi Digimon UP Error 19001, 21102, & 11006

Kamis, 23 Jul 2026 - 04:05 WIB