Britainaja – Pergantian cuaca yang ekstrem, seperti siang hari yang cerah di susul hujan deras pada sore hingga malam, menjadi fenomena yang umum terjadi di berbagai daerah termasuk Surabaya. Pola cuaca yang tidak menentu ini kerap memicu kemunculan sejumlah penyakit musiman yang wajib di waspadai masyarakat.
Dr. Detti Nur Irawati SpD, seorang Dosen dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), mengungkapkan ada beberapa penyakit langganan yang perlu di antisipasi saat intensitas hujan meningkat. Penyakit-penyakit ini berkisar dari yang ringan seperti flu, hingga yang memerlukan penanganan serius seperti tifus dan diare.
Flu dan ISPA Mengintai Saluran Pernapasan
Menurut Dr. Detti, penyakit yang paling mudah di kenali dan sering muncul saat musim hujan adalah flu. Fluktuasi suhu yang cepat, dari panas ke dingin, menyebabkan sistem kekebalan tubuh (imun) cenderung melemah. Kondisi ini membuat virus lebih mudah menyerang saluran pernapasan.
“Untuk musim hujan, paling jelas terlihat adalah flu. Ketika cuaca tidak menentu, panas lalu dingin, imun kita drop. Paling mudah menyerang saluran pernapasan, seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan flu,” jelas Dr. Detti dalam keterangan pers yang di terima. Selain flu, radang tenggorokan juga sering di jumpai. Radang tenggorokan, yang merupakan infeksi virus, berpotensi berkembang menjadi ISPA, bergantung pada kondisi imun pasien.
Tipes dan Diare Dipicu Kebersihan Makanan
Selain masalah pernapasan, gangguan pencernaan berupa diare juga menjadi keluhan yang banyak dialami masyarakat. Perubahan suhu tubuh akibat cuaca yang berbeda menjadi salah satu faktor pemicu. Namun, faktor utama lainnya seringkali terkait dengan kebersihan makanan.
“Salah satu faktornya (diare) sering jajan sembarangan, cuaca hujan, nggak bersih atau terlalu panas, banyak debu,” ujarnya. Lebih lanjut, Dr. Detti mengingatkan bahwa penyakit tifus atau demam tifoid juga menjadi langganan di musim hujan. Infeksi ini di sebabkan oleh bakteri Salmonella yang sulit di hilangkan dan menetap di usus halus.
Penyebaran bakteri ini sangat di pengaruhi oleh higienitas. “Kalau pola makan tidak bersih, penularannya melalui higienisasi makanan tidak bersih, sering jajan, atau memang tempat jajannya tidak bersih. Itu menyebabkan kuman kembali hidup, sehingga terjadi banyak tipes,” tegasnya, menekankan pentingnya menjaga kebersihan saat mengonsumsi makanan.
Demam Berdarah yang Kini Sulit Diprediksi
Terakhir, meskipun tidak sebanyak kasus di musim pancaroba, Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman saat musim hujan. Penyakit yang di tularkan oleh nyamuk ini kini semakin sulit ditentukan waktu kemunculannya.
“Semakin ke sini semakin sulit menentukan kapan demam berdarah muncul, karena setiap saat selalu ada demam berdarah,” tutupnya. Faktor penyebab utama tetap bersumber dari nyamuk, khususnya karena lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih, sehingga masih di temukan jentik-jentik atau nyamuk yang berkembang biak. Oleh karena itu, masyarakat di imbau untuk menjaga kebersihan lingkungan secara berkala. (Tim)









