KERINCI, Britainaja – Wakil Bupati Kerinci, H. Murison, resmi membuka Workshop Sosialisasi Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Kerinci Tahun 2026 di Ruang Pola Kantor Bupati, Kamis (30/7/2026). Langkah strategis ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Kerinci untuk melindungi warga dan membangun daerah secara aman serta berkelanjutan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kerinci mengumpulkan berbagai pihak penting dalam acara ini. Mulai dari para kepala perangkat daerah, camat, akademisi, hingga perwakilan organisasi masyarakat hadir untuk menyatukan langkah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kerinci, Dedi Andrizal, menegaskan pentingnya acara ini. Ia menjelaskan bahwa workshop bertujuan menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan mengenai dokumen KRB.
“Kami tidak ingin dokumen KRB sekadar menjadi tumpukan kertas administratif. Dokumen ini adalah pondasi utama agar perencanaan pembangunan daerah benar-benar memperhitungkan keselamatan warga dari ancaman bencana,” kata Dedi di hadapan para peserta.
Kerinci Miliki Potensi Indah Sekaligus Kerentanan Tinggi
Dalam sambutannya, Wabup Murison mengingatkan bahwa Kerinci menyimpan keindahan alam luar biasa, mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga aliran sungai. Namun, bentang alam ini juga menyimpan ancaman nyata seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga cuaca ekstrem.
Data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2025 bahkan menempatkan Kerinci pada skor 189,86—sebuah angka yang masuk dalam kategori risiko tinggi.
Kondisi inilah yang mendorong Wabup Murison bergerak cepat. Menurutnya, pemerintah daerah wajib memasukkan unsur pengurangan risiko bencana ke dalam setiap kebijakan dan program kerja.
“Setiap OPD harus menjadikan dokumen KRB sebagai acuan utama. Baik saat menyusun tata ruang, merencanakan pembangunan, maupun membuat program kerja harian. Kita harus memastikan masyarakat merasa aman,” ujar Murison menegaskan.
Sinergi Bersama untuk Masa Depan yang Aman
Workshop ini menghadirkan Tenaga Ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ade Piola Putra. Ade membagikan panduan teknis mengenai cara menyusun kajian risiko yang tepat sasaran dan berbasis mitigasi di lapangan.
Di akhir arahannya, Wabup Murison berpesan agar penyusunan dokumen ini tidak hanya menjadi beban BPBD semata. Ia mengajak sektor swasta, akademisi, dan seluruh lapisan masyarakat untuk aktif menyumbang data serta masukan yang akurat.
Dengan membuka acara secara resmi, Murison optimistis Kerinci bisa bertransformasi menjadi daerah yang jauh lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan alam di masa depan. (Tim)






