Britainaja – Presiden Donald Trump kini menghadapi situasi buntu dalam perang melawan Iran yang sudah memasuki pekan ketiga. Ia belum menunjukkan arah strategi yang jelas, sekaligus kesulitan meyakinkan publik Amerika tentang pentingnya perang ini.
Tekanan dari dalam negeri terus meningkat setelah Joe Kent mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional. Kent secara terbuka menyatakan bahwa Iran tidak memberikan ancaman nyata bagi Amerika Serikat dan menolak mendukung perang tersebut.
Meski Trump berulang kali mengklaim telah melemahkan kekuatan Iran, termasuk angkatan laut dan rudal balistiknya, ia belum berani menyatakan kemenangan. Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan perlawanan dan belum memberi sinyal menyerah.
Sejak serangan udara dimulai pada akhir Februari, konflik terus meluas. Iran bahkan mampu melancarkan serangan balasan ke berbagai wilayah, termasuk negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar. Situasi ini mengejutkan Trump, meski sebelumnya Iran sudah memberikan peringatan.
Dampak perang mulai terasa secara global. Harga minyak melonjak tajam dan ketegangan menyebar dari Lebanon hingga Teluk Persia. Serangan terhadap fasilitas diplomatik AS di Irak juga menambah kekhawatiran internasional.
Langkah Trump yang mendukung Israel tanpa persetujuan Kongres dan sekutu memicu kritik. Negara-negara Eropa, termasuk Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz, menolak terlibat. Mereka menegaskan bahwa konflik ini bukan tanggung jawab NATO.
Para analis menilai jalur militer saja tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Richard Haass menyebut perang ini akan semakin merugikan jika terus berlanjut. Sementara Sina Toossi menilai negosiasi menjadi satu-satunya jalan realistis agar semua pihak bisa menyelamatkan posisi masing-masing.
Kawasan Timur Tengah kini berada dalam kondisi yang disebut para ahli sebagai skenario terburuk. Tanpa langkah diplomasi yang cepat, konflik ini berpotensi semakin meluas dan sulit dikendalikan. (Tim)















