Britainaja – Dunia ilmu pengetahuan modern berutang besar pada sosok Tsabit bin Qurrah, ilmuwan serbabisa asal Harran yang hidup di masa keemasan Kekhalifahan Abbasiyah. Lahir pada tahun 826 M, pria bernama lengkap Abu al-Hasan Tsabit bin Qurrah al-Sabi’ al-Harrani ini bukan sekadar penerjemah ulung, melainkan arsitek intelektual yang menjembatani warisan Yunani kuno dengan inovasi sains Islam. Perjalanannya dari seorang tukang emas hingga menjadi astronom istana di Baghdad adalah bukti nyata bahwa ketekunan mampu mengubah peradaban.
Tsabit tumbuh dalam komunitas Sabian yang di kenal memiliki kecintaan mendalam pada astronomi dan matematika. Kecemerlangan otaknya menarik perhatian Muhammad bin Musa bin Syakir, salah satu dari anggota “Banu Musa” yang tersohor. Di bawah naungan institusi prestisius Bayt al-Hikmah, Tsabit tidak hanya menerjemahkan karya-karya Euclid, Archimedes, dan Ptolemaeus, tetapi juga memberikan koreksi kritis serta pengembangan teori yang orisinal.
Dalam dunia matematika, kontribusi terbesarnya terletak pada bidang geometri dan teori bilangan. Ia berhasil memperluas konsep sistem bilangan untuk menggambarkan rasio antara besaran kontinu, sebuah langkah revolusioner yang mendahului konsep kalkulus modern. Tsabit juga di kenal karena penemuan rumus untuk menentukan “bilangan bersahabat” (amicable numbers), yang menjadi salah satu capaian teoritis paling mengesankan di abad ke-9.
Beralih ke cakrawala, Tsabit bin Qurrah melakukan observasi astronomi yang sangat presisi. Ia berhasil menghitung panjang tahun matahari dengan akurasi yang mengejutkan pada masanya, yakni 365 hari, 6 jam, 9 menit, dan 12 detik. Ia juga memopulerkan teori “trepidasi” untuk menjelaskan presesi ekuinoks, sebuah studi yang menjadi referensi penting bagi para astronom Eropa di kemudian hari, termasuk Nicolaus Copernicus.
Warisan Intelektual dan Relevansi Modern Karya Tsabit bin Qurrah tidak berhenti pada angka dan bintang. Ia juga menulis risalah tentang anatomi tubuh manusia dan musik, menunjukkan kapasitas otak seorang polymath sejati. Mengapa profilnya begitu penting hari ini? Di era algoritma dan kecerdasan buatan, metodologi Tsabit dalam memvalidasi data dan mencari kebenaran empiris adalah fondasi utama dari metode ilmiah yang kita gunakan sekarang.
Bagi para akademisi dan peminat sejarah, mempelajari Tsabit bin Qurrah adalah upaya untuk melihat bagaimana kolaborasi antarbudaya dalam hal ini Yunani dan Arab mampu menghasilkan lonjakan teknologi. Ia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara atau agama, melainkan sebuah estafet panjang yang harus di jaga keberlanjutannya demi kemajuan umat manusia. (Tim)















