Harga Minyak Dunia Melonjak, Dipicu Ketegangan AS-Iran dan Perang Dagang

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Sabtu, 12 April 2025 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi : Pixabay

Ilustrasi : Pixabay

Britainaja – Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tajam pada Jumat (11/4/2025), setelah Amerika Serikat memberi sinyal akan menghentikan ekspor minyak Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap program nuklir negara tersebut.

Berdasarkan laporan Reuters, minyak Brent ditutup menguat sebesar US$ 1,43 atau naik 2,26% menjadi US$ 64,76 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan serupa sebesar US$ 1,43 atau 2,38% dan diperdagangkan di level US$ 61,50 per barel.

Pernyataan dari Menteri Energi AS, Chris Wright, menjadi pemicu utama kenaikan ini. Ia menyampaikan bahwa Washington sedang mempertimbangkan pelarangan penuh terhadap ekspor minyak dari Iran, sebagai bagian dari tekanan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan dalam kesepakatan nuklir.

“Jika ekspor Iran ditekan habis-habisan, pasokan minyak dunia jelas akan terganggu. Tapi saya menduga Tiongkok tetap akan membeli minyak dari Iran,” ungkap Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Pernyataan Wright muncul di tengah gejolak harga minyak yang berfluktuasi sepanjang pekan ini, terutama karena kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif baru terhadap Tiongkok dan memicu ketegangan global.

Baca Juga :  Gedung Putih Perketat Akses Jurnalis ke Ruang Jubir Pemerintah

“AS kini menjadi salah satu pemicu ketidakpastian geopolitik. Ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bisa mengubah lanskap global secara signifikan, mirip dengan dampak invasi Rusia ke Ukraina,” ujar John Kilduff, analis dari Again Capital.

Memperkeruh situasi, Tiongkok mengumumkan akan menaikkan tarif terhadap produk asal AS hingga 125% mulai Sabtu, dari sebelumnya 84%. Langkah ini merupakan respons terhadap kenaikan tarif yang dilakukan Trump sehari sebelumnya, yang menetapkan tarif baru hingga 145% terhadap produk Tiongkok.

Walaupun sebagian negara mendapat penangguhan selama 90 hari dari penerapan tarif tinggi, konflik dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu tetap dikhawatirkan akan memukul volume perdagangan internasional dan mengganggu distribusi energi global.

“Kondisi sudah terlanjur kacau. Meskipun ada penundaan tarif, harga minyak masih belum mampu kembali ke posisi stabil,” jelas Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.

Baca Juga :  Mikrofon Prabowo Dimatikan di PBB karena Melebihi Waktu

Laporan terbaru dari Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Kamis (10/4/2025) juga mencerminkan kekhawatiran ini. Mereka menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan memperingatkan bahwa eskalasi perang dagang bisa berdampak besar terhadap permintaan minyak dunia, termasuk di AS dan secara internasional hingga tahun 2026.

Sementara itu, hasil survei Reuters menyebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini diprediksi akan melambat, karena tekanan ekonomi akibat kebijakan tarif dari AS—suatu hal yang krusial mengingat Tiongkok merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.

Bahkan, Direktur Badan Perdagangan PBB menyampaikan kekhawatiran bahwa dampak dari perang dagang ini bisa menjadi ‘bencana besar’ terutama bagi negara berkembang.

Daniel Hynes, Ahli Strategi Komoditas Senior dari ANZ Bank, memperkirakan bahwa konsumsi minyak global bisa menyusut hingga 1% jika pertumbuhan ekonomi dunia turun di bawah angka 3%. “Permintaan energi sangat rentan terhadap perlambatan ekonomi,” ujarnya. (***)

Berita Terkait

Mengenal Putri Leonor: Calon Ratu Spanyol dan Pesona Pewaris Takhta Modern
Kurs Ringgit ke Rupiah Terbaru Hari Ini: 50 MYR Berapa IDR?
Maskapai Wajib Ganti Rugi Rp2,6 Juta Jika Pesawat Telat atau Batal di Vietnam
Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun
Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos
5 Orang Terkaya di Industri Media dan Hiburan
Kazakhstan & Azerbaijan Bersatu: TourAN Siap Manjakan Wisatawan Dunia
Beasiswa S1 Jepang MEXT 2027: Kuliah Gratis & Uang Saku Rp12 Juta
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:09 WIB

Mengenal Putri Leonor: Calon Ratu Spanyol dan Pesona Pewaris Takhta Modern

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:08 WIB

Kurs Ringgit ke Rupiah Terbaru Hari Ini: 50 MYR Berapa IDR?

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:05 WIB

Maskapai Wajib Ganti Rugi Rp2,6 Juta Jika Pesawat Telat atau Batal di Vietnam

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:00 WIB

Kabar Duka Istana Thailand: Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usia 47 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:00 WIB

Aturan Baru Malaysia: Remaja Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos

Berita Terbaru

PPPK menerima SK. ist

Nasional

1.147 PPPK Paruh Waktu Resmi Naik Status Jadi Penuh Waktu

Jumat, 14 Agu 2026 - 21:46 WIB