Britainaja – Dominasi Bali sebagai magnet utama pariwisata Indonesia kini merambah ke sektor yang lebih spesifik dan bernilai tinggi: wellness tourism. Bukan sekadar liburan biasa, tren perjalanan yang fokus pada pemulihan kesehatan fisik, mental, hingga ketenangan emosional ini menempatkan Pulau Dewata sebagai garda terdepan di peta persaingan global.
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan bahwa kesiapan Bali bukan tanpa alasan. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menjelaskan bahwa infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia di Bali sudah jauh melampaui wilayah lain. Hasil identifikasi dua tahun lalu membuktikan bahwa Bali memiliki ekosistem paling matang untuk menyambut wisatawan yang mencari kebugaran holistik.
Komitmen ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang kuat. Sejak hampir tiga dekade lalu, pemerintah telah menanam fondasi dengan menjadikan Sanur sebagai proyek percontohan kawasan kesehatan. Vinsensius dalam bincang publik pada Sabtu (31/1/2026) menekankan bahwa langkah ini adalah bukti keseriusan negara dalam mengelola aset wisata secara berkelanjutan dan menjadikannya skala prioritas nasional.
Ada misi besar di balik penguatan wisata kebugaran ini. Pemerintah ingin mengerem kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering berobat atau mencari ketenangan ke luar negeri. Dengan menyediakan fasilitas kelas dunia di dalam negeri, kebocoran devisa yang selama ini terjadi di harapkan bisa di tekan secara signifikan.
Meskipun Bali menjadi primadona, Kemenpar sudah mulai melirik potensi di kota-kota lain. Nama-nama seperti Manado, Jakarta, Solo, Yogyakarta, hingga Medan dan Malang masuk dalam daftar destinasi unggulan berikutnya. Manado, misalnya, disebut sebagai salah satu kandidat yang paling siap secara konsep untuk menyusul jejak kesuksesan Bali dalam mengembangkan sektor wellness.
Warisan Jalur Rempah Sebagai Daya Jual Utama
Perspektif menarik muncul dari Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia, Azril Azhari. Ia mengingatkan bahwa kekuatan utama Indonesia dalam wisata kesehatan sebenarnya terletak pada kekayaan alam yang melegenda sejak abad ke-16: rempah-rempah. Jalur rempah bukan hanya soal sejarah perdagangan, melainkan identitas kesehatan yang dicari dunia.
Azril menyarankan agar kementerian kembali menonjolkan narasi sejarah rempah untuk memikat wisatawan mancanegara. Agar tidak terjebak pada komersialisasi yang dangkal, penggunaan rempah sebaiknya tidak terbatas pada ritual kesehatan tubuh semata. Integrasi rempah ke dalam kuliner atau sajian makanan menjadi cara cerdas untuk memperkenalkan kekayaan hayati nusantara secara lebih menyeluruh.
Masa Depan Wisata Wellness di Indonesia
Wisata wellness di prediksi akan menjadi tulang punggung baru pariwisata Indonesia pasca-pandemi. Jika wisata massal (mass tourism) seringkali berdampak pada kerusakan lingkungan, wellness tourism justru mendorong pelestarian alam dan budaya lokal karena wisatawan jenis ini cenderung tinggal lebih lama dan mengeluarkan biaya lebih besar (high spender).
Tantangan ke depan adalah bagaimana menyinkronkan standar pelayanan medis dengan layanan kebugaran tradisional seperti pijat nusantara, jamu, dan meditasi. Jika pemerintah mampu mengawinkan fasilitas modern seperti di KEK Sanur dengan kearifan lokal yang autentik, Indonesia bukan mustahil akan menggeser posisi Thailand sebagai pusat kesehatan terbaik di Asia Tenggara. (Tim)















