Bahaya Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan

Petaka Tersembunyi di Balik Gurihnya Ampas Kelapa

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan.

Ilustrasi - Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan.

Britainaja – Masyarakat dunia baru saja menyambut gembira kabar masuknya tempe ke dalam daftar warisan budaya kuliner UNESCO. Semua orang menyukai bahan pangan kebanggaan Indonesia ini karena rasanya yang lezat dan kandungan nutrisinya yang melimpah.

Namun, Anda harus tahu bahwa tidak semua jenis tempe membawa manfaat baik bagi tubuh. Ada satu varian tempe tradisional yang justru menyimpan bahaya fatal: Tempe Bongkrek.

Berbeda dengan tempe kedelai yang menyehatkan, tempe bongkrek justru kerap memicu keracunan massal yang merenggut nyawa.

Apa Itu Tempe Bongkrek?

Kuliner unik ini berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Alih-alih menggunakan kacang kedelai, pembuatnya memanfaatkan ampas kelapa parut sisa pembuatan minyak kelapa. Setelah melalui proses fermentasi, tempe ini akan menghasilkan warna hijau tua yang khas.

Masyarakat lokal sangat menggemari tempe bongkrek karena dua alasan utama: harganya yang sangat murah dan rasanya yang gurih meresap. Sayangnya, di balik kelezatan ekonomis tersebut, ada ancaman racun yang siap menyerang organ tubuh.

Jejak Kelam Sejak Zaman Kolonial Belanda

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tempe bongkrek telah memicu petaka sejak ratusan tahun lalu. Ilmuwan asal Belanda, Adolf G. Voderman, mencatat wabah keracunan tempe bongkrek pertama kali pada tahun 1895. Ia menegaskan bahwa makanan ini bisa berujung pada kematian instan.

Baca Juga :  Cukup 15 Menit! Simak 10 Keajaiban Jalan Kaki Setiap Hari bagi Tubuh

Kasus ini kembali melonjak tajam pada periode 1931 hingga 1937. Saat itu, depresi ekonomi global melanda Hindia Belanda. Karena kesulitan keuangan, penduduk desa nekat memproduksi tempe bongkrek sendiri di rumah dengan peralatan seadanya. Akibatnya, gelombang keracunan massal pun tak terhindarkan.

Tahukah Anda? Saking melegendanya kisah pilu ini, sastrawan ternama Ahmad Tohari sampai mengabadikannya dalam novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Dalam cerita tersebut, kedua orang tua sang tokoh utama, Srintil, meninggal dunia akibat memakan tempe bongkrek beracun buatan mereka sendiri.

Mengapa Tempe Bongkrek Bisa Beracun?

Rasa penasaran peniliti membuahkan hasil pada tahun 1933. Dua ilmuwan dari Eijkman Institute Batavia, W.K. Mertens dan A.G. van Veen, berhasil mengungkap musuh tak terlihat di dalam makanan ini. Mereka menemukan bakteri berbahaya bernama Pseudomonas cocovenenans.

Bakteri ini memicu pembentukan dua jenis racun mematikan selama proses fermentasi ampas kelapa yang gagal:

  • Asam Bongkrek: Racun berbahaya yang tidak memiliki warna.

  • Toksoflavin: Racun yang memberikan warna kekuningan jelas pada tempe.

Baca Juga :  Jus Mentimun untuk Menurunkan Berat Badan dan Menjaga Kesehatan Tubuh

Saat masuk ke dalam tubuh manusia, asam bongkrek langsung merusak sistem transportasi gula ke sel darah merah. Lebih parah lagi, racun ini menghentikan metabolisme energi di hati, sehingga korban akan mengalami lonjakan gula darah drastis yang berujung pada kematian fatal.

Angka Kematian yang Mengerikan dan Larangan Pemerintah

Data dari buku Bongkrek Food Poisoning in Java karya Arbiyanto Purwo merekam angka yang mencengangkan. Sepanjang tahun 1951 hingga 1975, racun tempe bongkrek menjangkiti 7.216 orang dan merenggut 850 nyawa di antaranya. Artinya, rata-rata ada 34 orang yang meninggal dunia setiap tahun akibat makanan ini.

Tahun 1975 menjadi puncak bencana kuliner ini, di mana 125 orang meninggal dunia dari total 1.036 korban keracunan.

Melihat dampak fatal yang terus berulang, Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengeluarkan larangan resmi terhadap produksi tempe bongkrek sejak tahun 1962. Namun, keterbatasan ekonomi membuat sebagian warga sembunyi-sembunyi memproduksinya, sehingga kasus keracunan masih terus bermunculan hingga era 1980-an.

Kini, edukasi yang lebih baik membuat tempe bongkrek mulai ditinggalkan, dan masyarakat bisa menikmati kelezatan tempe kedelai yang jauh lebih aman dan kaya nutrisi. (Tim)

Berita Terkait

Jangan Abaikan Benjolan Leher dan Suara Serak, Bisa Jadi Kanker Tiroid
Jalan Kaki di Alam: Cara Sederhana Usir Stres dan Segarkan Pikiran
Jaga Jantung! 13 Makanan Ini Wajib Anda Batasi Demi Kolesterol Aman
Bahaya Main HP Sebelum Tidur: Cek Batas Waktu Idealnya Di Sini!
Antara Putih Telur dan Kuning Telur: Mana yang Lebih Sehat?
Dampak Serius Kehamilan Remaja: Bayi Berisiko Lahir Kritis
Hati-hati! Kebiasaan Pakai Earphone Berlebih Bisa Ancam Pendengaran Anda
Mengenal Daycare: Solusi Cerdas Pengasuhan Anak saat Orang Tua Sibuk Bekerja
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bahaya Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan

Minggu, 14 Juni 2026 - 18:00 WIB

Jangan Abaikan Benjolan Leher dan Suara Serak, Bisa Jadi Kanker Tiroid

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:00 WIB

Jalan Kaki di Alam: Cara Sederhana Usir Stres dan Segarkan Pikiran

Senin, 8 Juni 2026 - 11:00 WIB

Jaga Jantung! 13 Makanan Ini Wajib Anda Batasi Demi Kolesterol Aman

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bahaya Main HP Sebelum Tidur: Cek Batas Waktu Idealnya Di Sini!

Berita Terbaru

Ilustrasi - Huawei Rilis HarmonyOS 7: AI Makin Cerdas & Tampilan 3D Memukau. Gemini

Tech & Game

Huawei Rilis HarmonyOS 7: AI Makin Cerdas & Tampilan 3D Memukau

Senin, 15 Jun 2026 - 14:00 WIB

Ilustrasi - Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan.

Health

Bahaya Tempe Bongkrek: Kuliner Tradisional yang Mematikan

Senin, 15 Jun 2026 - 11:00 WIB