Britainaja – Malam 1 Muharram selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Islam. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah ini bukan sekadar perubahan angka di kalender.
Momen berharga ini hadir sebagai waktu terbaik untuk merenung (muhasabah), memperbaiki kualitas amal, dan membuka lembaran hidup baru yang penuh ketaatan kepada Allah SWT.
Bulan Muharram sendiri menyandang status sebagai satu dari empat bulan haram—yaitu bulan yang Allah muliakan. Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhkan diri dari segala bentuk maksiat.
Mengapa Bulan Muharram Begitu Istimewa?
Dalam buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya karya Khalifa Zain Nasrullah, Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Jauh sebelum masa Rasulullah SAW, masyarakat Arab Jahiliyah mengenal bulan ini dengan nama Shafar Awwal.
Secara bahasa, Muharram berarti “bulan yang diharamkan”. Masyarakat Arab zaman dahulu sangat menghormati kesucian bulan ini, bahkan mereka melarang keras adanya peperangan selama 30 hari di bulan Muharram.
Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan bulan ini melalui sabdanya:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)
6 Amalan Utama untuk Menghidupkan Malam 1 Muharram
Melansir dari buku Khotbah Jumat Sepanjang Tahun karya M. Rouful Wahab dan S.M. Hamzah, berikut adalah beberapa amalan terbaik yang bisa kita lakukan untuk menyambut awal tahun Hijriah:
1. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir mampu menghidupkan hati yang mulai layu dan membawa kita makin dekat dengan Sang Pencipta. Sementara itu, istighfar menjadi sarana terbaik untuk memohon ampunan atas segala khilaf dan dosa selama setahun lalu.
-
Bacaan Istighfar Singkat: أَسْتَغْفِرُ الله Astaghfirullah Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”
-
Bacaan Sayyidul Istighfar (Induk Istighfar):
أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْهُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastata’tu, wa a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u laka bidzanbi, faghfirlī innahu la yagfirud dzunuba illa anta.
Artinya: “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas ikatan janji-Mu dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku, dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya, tiada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)
2. Melakukan Muhasabah Diri
Tahun baru adalah cermin untuk melihat kembali perjalanan hidup kita selama setahun terakhir. Kita bisa mengisi momen ini dengan mengingat kembali ibadah yang telah lalu, mengukur kedekatan kita dengan Allah, memperbaiki hubungan antar-sesama, serta menumbuhkan rasa sesal atas dosa-dosa masa lalu.
3. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Membaca, meresapi (tadabbur), dan mengamalkan isi Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia kapan saja, termasuk saat fajar tahun baru menyingsing.
Rasulullah SAW mengingatkan kita:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
4. Mendirikan Sholat Sunnah
Rasulullah SAW memang tidak menetapkan sholat khusus yang spesifik untuk malam 1 Muharram. Oleh sebab itu, kita perlu bijak dan berhati-hati terhadap amalan yang tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Meski begitu, kita tetap bisa menghidupkan malam ini dengan memperbanyak sholat sunnah umum yang sah, seperti sholat tahajud, witir, taubat, hajat, dan rawatib.
5. Melangitkan Doa Akhir dan Awal Tahun
Kita bisa memanfaatkan pergantian tahun ini untuk meminta segala kebaikan kepada Allah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutip doa akhir tahun dari kitab Al-Jami’ Al-Kabir karya Imam As-Suyuthi. Kita bisa membaca doa ini setelah Ashar sebelum matahari terbenam di hari terakhir bulan Dzulhijjah:
-
Doa Akhir Tahun (Dibaca Setelah Ashar):
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba’da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da’autanî ilat taubati min ba’di jarâ’atî ‘alâ ma’shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa’attanî ‘alaihis tsawâba, far as aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha’ rajâ’î minka yâ karîm.
Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang—sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu—sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat—sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Begitu memasuki waktu Magrib, tandanya tahun baru telah tiba. Kita bisa menyambungnya dengan membaca doa awal tahun berikut ini:
-
Doa Awal Tahun (Dibaca Setelah Magrib): اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu’awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.
Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”
6. Menyambung Silaturahmi dan Merajut Hubungan Baik
Awal Muharram juga menjadi momen yang sangat indah untuk mencairkan hubungan yang beku. Jika selama ini ada ganjalan atau perselisihan dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga, mari manfaatkan awal tahun ini untuk saling memaafkan.
Sebab, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terkait hal ini:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memperbaiki hubungan sosial dengan sesama manusia adalah fondasi penting yang tidak boleh kita lupakan dalam upaya memperbaiki diri seutuhnya. Selamat menyambut Tahun Baru Islam, mari kita mulai langkah baru dengan hati yang bersih! (Tim)






