Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Dzulhijjah

Dilema Utang Puasa: Bolehkah Menggabungkan Niat Qadha dan Sunnah?

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Dzulhijjah.

Ilustrasi - Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Dzulhijjah.

Britainaja – Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam mulai bersiap menyambut berbagai amalan sunnah. Salah satu ibadah yang paling dinanti adalah puasa pada sembilan hari pertama bulan mulia ini.

Namun, sebuah pertanyaan klasik selalu muncul setiap tahun: bolehkah kita menggabungkan puasa Dzulhijjah dengan puasa qadha Ramadhan?

Pertanyaan ini biasanya lahir dari umat Muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadhan—entah karena haid, sakit, atau perjalanan jauh—tetapi tidak ingin kehilangan keutamaan besar dari puasa Dzulhijjah dan Arafah. Lalu, bagaimana para ulama memandang persoalan ini? Mari kita bedah penjelasannya secara lengkap dan mudah dipahami.

Mengapa Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Begitu Istimewa?

Sebelum membahas hukum penggabungan niat, kita perlu memahami mengapa hari-hari ini begitu diburu. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu paling mulia dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan menegaskan keutamaan hari-hari ini dalam sebuah hadis:

“Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun puasa.” (HR. At-Tirmidzi).

Selain itu, ada puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan luar biasa bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Mengingat singkatnya waktu dan besarnya pahala, banyak orang ingin mendapatkan kedua keutamaan tersebut sekaligus melalui metode tasyrikun niyyah atau penggabungan dua niat ibadah dalam satu amalan.

Pendapat Pertama: Ulama yang Membolehkan Penggabungan Niat

Sebagian ulama memperbolehkan kita meniatkan puasa qadha Ramadhan pada hari-hari puasa sunnah Dzulhijjah. Dengan cara ini, umat Muslim tetap bisa meraih keutamaan waktu mulia tersebut.

Baca Juga :  Tanda Lailatul Qadar Menurut Hadis: Malam Tenang dan Matahari Pagi Tak Menyilaukan

Salah satu rujukan pendapat ini berasal dari Sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin. Beliau menerangkan bahwa orang yang menjalankan puasa qadha pada hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah akan mendapatkan pahala keduanya, meskipun niat utamanya adalah qadha.

Sejumlah ulama terkemuka dari mazhab Syafi’i seperti Al-Khatib Asy-Syarbini, Syekh Ar-Ramli, dan Syekh Sulaiman Al-Jamal juga mendukung pandangan ini. Artinya, ketika Anda membayar utang puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, Anda juga berpeluang mendapatkan berkah dari keutamaan hari tersebut karena Anda menghidupkan waktu mulia dengan ibadah.

Pendapat Kedua: Pahala Tidak Sempurna dan Sebaiknya Dipisah

Di sisi lain, ada pula ulama yang menyarankan agar kita memisahkan kedua puasa ini. Menurut pandangan ini, puasa qadha yang Anda lakukan di bulan Dzulhijjah tetap sah, tetapi Anda tidak mendapatkan pahala puasa sunnah Dzulhijjah secara sempurna.

Al-Khatib Asy-Syarbini mengingatkan bahwa pahala puasa sunnah tertentu tidak otomatis runtuh dan menyatu jika niat utama kita adalah puasa wajib. Anda memang berhasil menggugurkan kewajiban utang puasa, namun keutamaan khusus puasa Dzulhijjah yang di janjikan dalam hadis tidak bisa Anda raih sepenuhnya.

Pandangan ini juga menekankan sebuah prinsip penting: dahulukan kewajiban sebelum mengejar ibadah sunnah. Dalam kitab Nihayatul Muhtaj, Syamsuddin Ar-Ramli menganjurkan umat Muslim untuk segera melunasi utang Ramadhan terlebih dahulu. Bahkan, sebagian ulama menilai makruh hukumnya sengaja mendahulukan puasa sunnah jika utang puasa Ramadhan sebelumnya sengaja di tinggalkan tanpa alasan syar’i.

Baca Juga :  Berbuka Puasa Mewah di Medan: Swiss-Belinn Tawarkan Promo Early Bird Ramadhan Swiss Delight

Mana yang Sebaiknya Anda Pilih?

Mayoritas ulama sepakat bahwa mengqadha puasa Ramadhan memiliki derajat kewajiban yang jauh lebih tinggi daripada puasa sunnah. Oleh karena itu, jika utang puasa Anda masih banyak, fokuslah untuk melunasinya terlebih dahulu.

Namun, jika bulan Dzulhijjah sudah tiba dan Anda belum sempat menyelesaikan seluruh utang puasa, Anda bisa mengambil jalan tengah: niatkan puasa untuk qadha Ramadhan di hari-hari Dzulhijjah. Langkah ini insyaAllah tetap mendatangkan keberkahan waktu mulia bagi Anda, sekaligus menggugurkan kewajiban yang sempat tertunda.

Perbedaan pendapat ini justru menunjukkan betapa luas dan indahnya khazanah fikih Islam. Kita tidak perlu saling menyalahkan, melainkan memilih pendapat yang paling menenangkan hati dan sesuai dengan kondisi ibadah kita saat ini.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah boleh menggabungkan puasa Arafah dengan puasa qadha Ramadhan? Sebagian ulama membolehkan Anda berniat qadha puasa Ramadhan di hari Arafah dengan harapan tetap mendapatkan berkah hari tersebut. Namun, ulama lain berpendapat bahwa pahala penuh puasa Arafah hanya bisa Anda dapatkan jika meniatkannya secara khusus sebagai puasa sunnah Arafah.

2. Mana yang harus saya dahulukan, bayar utang puasa atau puasa sunnah Dzulhijjah? Anda harus mendahulukan membayar utang puasa Ramadhan karena hukumnya wajib, sementara puasa Dzulhijjah hukumnya sunnah.

3. Amalan apa saja yang bisa kita lakukan di awal bulan Dzulhijjah selain puasa? Selain berpuasa, Anda sangat dianjurkan untuk memperbanyak zikir (takbir, tahmid, tahlil), bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan memanjatkan doa, khususnya pada hari Arafah. (Tim)

Berita Terkait

Hukum Keramas Sebelum Sholat Idul Adha: Panduan Lengkap & Tata Caranya
Cara Aman dan Nyaman Menyentuh Hajar Aswad Sesuai Sunnah
Plastik Mahal, Gunakan Besek dan Daun Pisang Saat Pembagian Daging Kurban
Tinggalkan Kupon Fisik, Pemkot Padang Gunakan Sistem Barcode untuk Distribusi Kurban
Stop Pakai Kresek Hitam! Pilih Wadah Kurban yang Aman dan Berkah
Penumpang Tuli Dipaksa Turun dari Frontier Airlines, Maskapai Beri Pembelaan Berbeda
Lebih Utama Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Cek Faktanya
Ingin Segera ke Baitullah? Amalkan Sholawat Haji Ini Agar Cepat Berangkat
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 05:00 WIB

Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Dzulhijjah

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:00 WIB

Hukum Keramas Sebelum Sholat Idul Adha: Panduan Lengkap & Tata Caranya

Selasa, 12 Mei 2026 - 05:00 WIB

Cara Aman dan Nyaman Menyentuh Hajar Aswad Sesuai Sunnah

Senin, 11 Mei 2026 - 18:00 WIB

Plastik Mahal, Gunakan Besek dan Daun Pisang Saat Pembagian Daging Kurban

Senin, 11 Mei 2026 - 14:00 WIB

Tinggalkan Kupon Fisik, Pemkot Padang Gunakan Sistem Barcode untuk Distribusi Kurban

Berita Terbaru

Ilustrasi - Kode Redeem FF 16 Mei 2026 Hadirkan Skin Premium Gratis.

Tech & Game

Serbu! Kode Redeem FF 16 Mei 2026 Hadirkan Skin Premium Gratis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 06:00 WIB

Ilustrasi - Pelayanan di Loket BPJS Kesehatan.

Nasional

Tarif BPJS Kesehatan Bakal Naik? Ini Fakta dan Rinciannya

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:30 WIB