Britainaja – Harga bensin di Amerika Serikat mengalami lonjakan tajam dalam waktu singkat dan memicu perdebatan politik. Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, secara terbuka menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas kenaikan harga yang hampir mencapai 75% dalam kurang dari sebulan.
Schumer menyebut harga bensin nasional naik dari sekitar USD 2,93 per gallon menjadi USD 3,94. Ia menilai kebijakan dan situasi yang terjadi di bawah kepemimpinan Trump turut mendorong lonjakan tersebut, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Data pasar juga menunjukkan harga bensin di AS terus meroket sejak konflik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan energi global. Rata-rata harga eceran naik lebih dari 30% sejak akhir Februari 2026 dan mendekati USD 4 per gallon. Analis memperkirakan harga masih berpotensi naik hingga USD 4,10 per gallon jika tren harga minyak mentah terus meningkat.
Lonjakan ini tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga menjadi isu politik menjelang pemilu paruh waktu. Partai Republik menghadapi tekanan karena harga energi yang tinggi bertentangan dengan janji untuk menurunkan biaya hidup masyarakat.
Sebagai respons, pemerintahan Trump mengambil sejumlah langkah, termasuk pengecualian sementara terhadap aturan pengiriman tertentu untuk memperlancar distribusi energi. Namun, para analis menilai kebijakan tersebut hanya memberi dampak terbatas terhadap harga di SPBU.
Di sisi lain, penghapusan sementara regulasi bahan bakar musim panas berpotensi menekan harga hingga 10–20 sen per gallon. Meski begitu, banyak pihak menilai penurunan tersebut belum cukup signifikan untuk meringankan beban konsumen secara keseluruhan.
Situasi ini menunjukkan bahwa harga bensin di AS tidak hanya dipengaruhi kebijakan domestik, tetapi juga dinamika geopolitik dan pasar energi global yang terus berubah. (Tim)















