Britainaja – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan AS mampu menjaga jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz tanpa bantuan sekutu. Pernyataan ini disampaikan saat ia menerima Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, di Gedung Putih, Selasa (17/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
“Kita tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan, dan kita tidak membutuhkan bantuan apa pun,” ujar Trump, menekankan kemandirian militer AS dalam menjaga jalur energi global tetap terbuka.
Sikap ini berbeda dari pernyataannya sebelumnya yang menyerukan pembentukan koalisi internasional. Meski beberapa negara menyatakan respons positif, Trump tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang akan bergabung. Pergeseran ini menimbulkan spekulasi soal konsistensi strategi AS di kawasan Teluk.
Sekutu Eropa Menolak Keterlibatan
Beberapa sekutu utama menolak atau menunda dukungan. Presiden Emmanuel Macron menegaskan Prancis tidak akan terlibat karena bukan pihak dalam konflik. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer juga belum menunjukkan komitmen penuh. Negara lain seperti Jerman, Italia, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Polandia masih meninjau keputusan mereka.
Trump juga mengkritik aliansi NATO, menilai organisasi ini gagal menunjukkan solidaritas terhadap AS. Ia menyebut situasi Selat Hormuz sebagai “ujian besar” bagi NATO.
Selat Hormuz dan Risiko Global
Selat Hormuz menghubungkan Iran dan Semenanjung Arab, menjadi jalur 20–30% perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi internasional.
Trump menyebut beberapa negara Teluk dan Israel mendukung upaya AS, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain. Namun, belum ada konfirmasi resmi soal partisipasi mereka dalam koalisi maritim.
Para pengamat menilai ketegangan ini bisa berdampak jangka panjang terhadap pasar energi global dan arsitektur keamanan internasional. Trump memperkirakan Iran membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk memulihkan kekuatan militernya setelah konflik. (Tim)















