Britainaja – Pusat perbelanjaan di kota-kota besar kini tak lagi sekadar menjadi tempat berburu diskon atau sekadar mengisi perut. Memasuki Februari 2026, sebuah fenomena unik bertajuk “Rombongan Cari Jodoh” atau yang populer dengan singkatan Rocadoh, mulai memadati lorong-lorong mal. Kehadiran massa yang antusias mengikuti ajang pencarian pasangan secara tatap muka ini mengubah wajah pusat perbelanjaan menjadi ruang interaksi sosial yang lebih intim.
Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), memandang tren ini sebagai langkah inovatif dalam manajemen kegiatan tematik. Lewat bincang hangat bersama PRO3 RRI pada Minggu, 1 Februari 2026, ia mengungkapkan bahwa agenda semacam ini sengaja di rancang untuk mendongkrak angka kunjungan. Meski begitu, pihak pengelola tetap menempatkan efektivitas acara sebagai poin evaluasi utama untuk melihat sejauh mana dampaknya terhadap ekosistem ritel.
Menariknya, Alphonzus menegaskan bahwa tidak semua acara di mal melulu soal mengejar angka kunjungan semata. Ada kalanya sebuah kegiatan di hadirkan hanya untuk memperkenalkan konsep gaya hidup baru atau program edukasi tertentu kepada masyarakat. Khusus untuk fenomena Rocadoh, ia belum bisa menjamin apakah ini akan menjadi agenda rutin di setiap akhir pekan atau hanya tren sesaat yang bersifat eksperimental.
Pihak asosiasi menyadari bahwa kunci keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan terletak pada variasi. Jika sebuah konsep di lakukan terlalu sering, kekhawatiran akan munculnya rasa jenuh di benak pengunjung menjadi nyata. Oleh sebab itu, pengelola mal di tuntut untuk terus memutar otak agar sajian hiburan tetap segar. Acara pencarian jodoh mungkin menarik hari ini, namun evaluasi mendalam tetap di perlukan untuk menentukan keberlanjutannya di masa depan.
Respon positif juga datang dari masyarakat, salah satunya Ida, yang merasakan suasana berbeda saat berkunjung ke mal. Ia merasa bosan jika rutinitas di pusat belanja hanya seputar makan dan belanja tanpa ada interaksi yang bermakna. Bagi Ida, Rocadoh memberikan warna baru yang membuat mal terasa lebih hidup. Namun, ia juga memberikan catatan penting agar kegiatan semacam ini tetap di kemas dengan apik dan menjunjung tinggi norma sosial yang berlaku.
Mengapa Ruang Publik Berubah Menjadi ‘Biro Jodoh’?
Secara sosiologis, fenomena Rocadoh mencerminkan kerinduan masyarakat urban terhadap interaksi langsung di tengah dominasi aplikasi kencan daring (dating apps). Banyak individu mulai merasa lelah dengan algoritma digital dan memilih untuk kembali ke cara-cara konvensional, yakni bertemu secara fisik di tempat yang aman dan nyaman seperti mal. Bagi pengelola mal, ini adalah strategi omnichannel yang cerdas untuk menggaet generasi muda yang haus akan pengalaman (experience-oriented).
Agar tren ini tidak layu sebelum berkembang, pengelola pusat belanja sebaiknya mengintegrasikan acara Rocadoh dengan tenant-tenant yang ada. Misalnya, sesi kencan singkat dapat di lakukan di area food court atau kafe tertentu, sehingga dampak ekonominya langsung terasa bagi penyewa lahan. Selama aspek privasi dan kenyamanan pengunjung umum tetap terjaga, Rocadoh berpotensi menjadi solusi bagi sepi-nya ritel fisik di tengah gempuran belanja online. (Tim)















