Rupiah Menguat Tipis, Pasar Cermati Dampak Shutdown AS dan Tekanan Global

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Sabtu, 8 November 2025 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaran uang rupiah bergambar sosok pahlawan nasional (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

Lembaran uang rupiah bergambar sosok pahlawan nasional (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

BritainajaNilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat sekitar 0,07 persen atau 11 poin ke level Rp16.690 per dolar AS, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada akhir pekan di pengaruhi oleh ketidakpastian dari kondisi ekonomi AS. Situasi tersebut muncul karena penutupan sebagian layanan pemerintah AS (government shutdown) yang berlangsung berkepanjangan.

Menurutnya, penghentian layanan tersebut menyebabkan sejumlah laporan ekonomi penting tidak di rilis sesuai jadwal, termasuk data ketenagakerjaan dan inflasi yang biasanya menjadi acuan pelaku pasar.

“Dengan tertundanya publikasi data resmi, pelaku pasar memiliki panduan terbatas dalam memperkirakan arah kebijakan ekonomi AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (7/11/2025).

Situasi tersebut membuat investor mengalihkan perhatian pada survei sektor swasta untuk melihat perkembangan ekonomi Negeri Paman Sam. Salah satu laporan yang dirilis pada Kamis menunjukkan adanya tanda pelemahan di pasar tenaga kerja. Hal ini kemudian mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi melakukan penurunan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Baca Juga :  Kode Redeem FF 12 Juli 2026: Klaim Skin & Diamond Gratis Sekarang

Berdasarkan jajak pendapat yang beredar di pasar, peluang penurunan suku bunga pada Desember meningkat menjadi sekitar 70 persen, dari sebelumnya sekitar 60 persen. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tersebut turut membantu menopang mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Tekanan dari Perdagangan Global

Di sisi lain, perkembangan ekonomi Tiongkok turut memberi pengaruh pada pasar mata uang. Negeri Tirai Bambu mencatat penurunan ekspor pada Oktober, setelah pertumbuhan yang kuat di bulan sebelumnya. Impor juga mengalami pelemahan, sehingga neraca perdagangan Tiongkok tercatat menyempit.

Ibrahim menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan global masih lemah, sementara konsumsi domestik Tiongkok belum pulih sepenuhnya. Ketidakpastian bertambah dengan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing.

Salah satu isu yang memanas adalah rencana pemerintah AS untuk membatasi penjualan chip kecerdasan buatan (AI) berkapasitas rendah dari Nvidia ke Tiongkok, guna membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi semikonduktor canggih. Langkah ini di sebut-sebut sebagai respons atas kebijakan Beijing yang berniat memperketat penggunaan chip buatan luar negeri di pusat data pemerintah, sekaligus mendukung industri chip nasional.

Baca Juga :  Update Harga Emas di Jambi Hari Ini Turun, Simak Rinciannya

Menurut Ibrahim, dinamika geopolitik semacam ini menjadi faktor eksternal yang cukup dominan memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi Ekonomi Domestik

Dari dalam negeri, pasar masih menilai perkembangan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025 yang tercatat 5,04 persen. Angka tersebut lebih rendah di banding target tahunan pemerintah yang berada di kisaran 5,2 persen.

Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 mencapai sekitar 5,5 persen. Dengan proyeksi tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 kemungkinan berada di kisaran 5,13 persen.

Namun, Ibrahim menilai capaian pertumbuhan di atas 5,5 persen pada akhir tahun bukanlah sesuatu yang mudah dicapai. Sepanjang 2025 tidak terdapat momentum besar yang dapat mendorong percepatan ekonomi, baik dari sisi politik maupun stimulus fiskal.

“Secara tren, pertumbuhan kuartal IV yang mencapai 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi biasanya sulit terwujud tanpa dorongan momentum tertentu,” katanya.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan tetap akan mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, data ekonomi Tiongkok, serta langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian domestik. (Tim)

Berita Terkait

Update Harga BBM Hari Ini 14 Juli 2026: Cek Tarif Pertamax & Pertalite Terbaru
Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp43.000 Per Gram
Ini Sosok Pemilik Minimarket O!Save, Sang Penantang Alfamart Indomaret
Tanpa Biaya Admin, Begini Cara Transfer DANA ke BRI, BNI, dan Mandiri
Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 13 Juli 2026: Tarif Nonsubsidi Turun
Harga Emas Antam Hari Ini 13 Juli 2026: Turun di Angka Rp 2,635 Juta per Gram
Ada yang Turun , Buruan Cek Harga Baru BBM Pertamina Hari Ini 11 Juli 2026
Harga Emas Antam Hari Ini 11 Juli 2026: Masih Betah di Angka Rp 2,65 Juta
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:30 WIB

Update Harga BBM Hari Ini 14 Juli 2026: Cek Tarif Pertamax & Pertalite Terbaru

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:30 WIB

Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp43.000 Per Gram

Senin, 13 Juli 2026 - 16:04 WIB

Ini Sosok Pemilik Minimarket O!Save, Sang Penantang Alfamart Indomaret

Senin, 13 Juli 2026 - 15:06 WIB

Tanpa Biaya Admin, Begini Cara Transfer DANA ke BRI, BNI, dan Mandiri

Senin, 13 Juli 2026 - 12:02 WIB

Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 13 Juli 2026: Tarif Nonsubsidi Turun

Berita Terbaru

Ilustrasi - Piala Dunia 2026.

Sports

Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp133 Juta

Rabu, 15 Jul 2026 - 21:03 WIB

Set Enchanted Wilds. Medcom

Tech & Game

Riot Games Rilis Enchanted Wilds, Set Terbaru Teamfight Tactics

Rabu, 15 Jul 2026 - 07:07 WIB