Britainaja – Muharram selalu membawa getaran yang berbeda. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, kehadirannya menjadi penanda penting bahwa kita telah memasuki Tahun Baru Islam. Lebih dari sekadar pergantian kalender, Muharram memegang kedudukan yang sangat istimewa karena Allah SWT memilihnya sebagai salah satu dari empat bulan haram yang penuh kemuliaan.
Bahkan sejak zaman Arab pra-Islam, masyarakat setempat sangat menghormati bulan ini. Mereka sepakat meletakkan senjata dan menghentikan semua bentuk peperangan demi menjaga kesucian Muharram. Bagi umat Muslim saat ini, Muharram adalah momen emas untuk mempertebal ibadah, menjauhi maksiat, dan menata ulang kualitas spiritual kita.
Mengapa Publik Menyebut Muharram sebagai Bulan Haram?
Secara bahasa, Muharram memiliki arti “yang terlarang” atau “yang suci”. Namun, makna terdalamnya bukan sekadar daftar larangan. Kata ini merujuk pada kesucian dan kehormatan yang luar biasa.
Pada masa Arab kuno, berbagai suku menyepakati sebuah aturan tidak tertulis untuk menghentikan pertumpahan darah selama bulan ini. Alhasil, semua orang bisa merasakan suasana yang aman dan damai. Alasan utama penamaan Muharram adalah posisinya di awal tahun yang menjadi waktu suci bebas perang.
Terkait kesucian bulan-bulan ini, Allah SWT menegaskan dalam Surat At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
Pergeseran Pandangan Ulama Mengenai Larangan Perang
Hingga saat ini, para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang apakah larangan berperang di bulan Muharram masih berlaku secara mutlak atau tidak.
-
Mayoritas Ulama (Jumhur): Menilai bahwa turunnya Surat At-Taubah ayat 36 telah menghapus (mansukh) aturan larangan perang tersebut.
-
Sebagian Ulama Lain: Tetap meyakini bahwa kehormatan bulan haram, termasuk Muharram, membuat larangan berperang di dalamnya berlaku abadi.
Perbedaan pendapat ini justru memperlihatkan betapa besarnya perhatian para ahli fiqih terhadap kesucian bulan-bulan haram dalam tradisi Islam.
Menelusuri Sejarah: Saat Muharram Masih Bernama Safar Awal
Tahukah Anda bahwa bulan ini memiliki nama lain di masa lalu? Imam As-Suyuthi dalam kitab Syarah Shahih Muslim mengungkapkan fakta menarik ini.
Sebelum fajar Islam terbit, masyarakat Jahiliyah mengenal bulan ini dengan nama Safar Awal. Baru setelah Islam datang, Allah SWT mengubah namanya menjadi Muharram. Perubahan nama yang sakral inilah yang membuat Rasulullah SAW menjuluki Muharram sebagai Syahrullah atau Bulan Allah—sebuah gelar kehormatan yang tidak dimiliki bulan lainnya.
Hikmah Indah di Balik Awal Tahun Hijriah
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam mahakaryanya, Fathul Bari, mengupas tuntas alasan para sahabat memilih Muharram sebagai awal tahun. Alasannya adalah kesucian bulan ini.
Melalui sistem kalender ini, umat Muslim memulai awal tahun dengan bulan suci (Muharram) dan menutup akhir tahun dengan bulan suci pula (Dzulhijjah). Perhatikan bagaimana Islam menata waktu kita dengan begitu indah melalui tabel berikut:
| Posisi dalam Setahun | Nama Bulan Haram | Momentum Spiritual |
| Awal Tahun | Muharram | Membuka tahun dengan kesucian |
| Pertengahan Tahun | Rajab | Menjaga konsistensi iman |
| Akhir Tahun | Dzulqa’dah & Dzulhijjah | Menutup tahun dengan ibadah haji |
Selain itu, Muharram tiba tepat setelah musim haji usai. Saat para jemaah haji melangkah kembali ke kampung halaman dengan lembaran hidup yang bersih, Muharram menyambut mereka sebagai waktu terbaik untuk memulai kehidupan baru yang lebih bertakwa.
Konsekuensi Logis: Pahala Berlipat, Dosa Lebih Berat
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Al-Fakhrir Razi memberikan peringatan sekaligus motivasi yang kuat bagi kita. Beliau menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia di bulan haram memiliki bobot yang berbeda.
Ketika seseorang nekat berbuat maksiat di bulan ini, ia akan memikul konsekuensi dosa yang jauh lebih berat daripada bulan biasa. Sebaliknya, saat kita mengalirkan energi untuk amal saleh dan ibadah, Allah SWT menjanjikan ganjaran pahala yang melimpah ruah.
Waktu Terbaik untuk Evaluasi Diri dan Menata Resolusi
Ulama besar Ibnu Al-Jauzi lewat kitab At-Tabshirah mengajak kita memandang Muharram sebagai ladang subur untuk menanam kebaikan. Sebagai gerbang awal tahun, gunakan momen ini untuk:
-
Merenungi dan mengevaluasi rapor spiritual kita selama setahun ke belakang.
-
Menyusun resolusi spiritual dan mental yang matang untuk setahun ke depan.
-
Memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia dan hubungan vertikal dengan Allah SWT.
Puasa Muharram: Ibadah Sunnah Paling Utama Setelah Ramadhan
Salah satu mahkota kemuliaan bulan ini adalah ibadah puasanya. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan ini dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulannya Allah) yaitu Muharram.”
Gelar Syahrullah yang melekat pada Muharram mengonfirmasi bahwa bulan ini menyimpan potensi spiritual yang luar biasa. Mari kita manfaatkan momentum awal tahun baru Islam ini dengan memperbanyak puasa sunnah, memperkuat ketakwaan, dan mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Sang Pencipta. (Tim)






