Britainaja – Krisis energi global memuncak setelah ketegangan di Selat Hormuz mengancam stabilitas ekonomi dunia. Konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut memengaruhi jalannya perdagangan energi.
Dua kapal strategis Indonesia, Pertamina Pride dan Pertamina Gamsunoro, ikut terdampak. Kapal-kapal ini bukan sekadar alat angkut, tetapi simbol kekuatan maritim Indonesia.
Pertamina Pride, tanker raksasa VLCC sepanjang 330 meter, mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah untuk kebutuhan domestik. Kapal ini membantu menekan ketergantungan pada kapal sewa asing.
Sementara itu, Pertamina Gamsunoro, tanker kelas Aframax dengan bobot 120.000 ton, beroperasi fleksibel di pelabuhan besar dunia dan mengantar energi ke jalur internasional seperti Terusan Suez dan Timur Tengah.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Iran memperketat kontrol Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui 20 juta barel minyak per hari. Parlemen Iran bahkan mempertimbangkan pungutan tol sekitar Rp 33 miliar per kapal. Kebijakan ini menekan harga minyak global hingga lebih dari USD 100 per barel dan memaksa beberapa negara Asia melakukan penjatahan bahan bakar.
Menanggapi situasi, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri intensif melakukan diplomasi. Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS, memastikan koordinasi dengan KBRI Teheran terus berjalan untuk keamanan kapal. Iran memberi respons positif, namun tantangan teknis di lapangan tetap dinamis. Fokus utama saat ini adalah keselamatan kapal dan awak.
Nasib Pertamina Pride dan Gamsunoro kini berada di meja perundingan. Dukungan masyarakat Indonesia diharapkan menyertai upaya diplomasi agar dua simbol kedaulatan energi ini kembali berlayar aman. (Tim)












