Britainaja – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ali Yusuf, mengajak umat Islam memahami makna ulil amri dengan lebih komprehensif. Hal itu disampaikan dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Kamis (12/03).
Ali Yusuf menyoroti perdebatan ulil amri yang muncul saat penentuan hari raya Idulfitri atau Iduladha berbeda antara pemerintah dan organisasi keagamaan. Ia menekankan bahwa ketaatan kepada ulil amri bersifat bersyarat, tidak mutlak.
“Ketaatan kepada ulil amri berlaku dalam perkara yang baik (ma’ruf). Jika tidak, tidak ada kewajiban untuk mentaatinya,” ujar Ali Yusuf.
Penetapan Idulfitri Muhammadiyah
Berdasarkan metode hisab dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Metode hisab memungkinkan perhitungan hilal lebih awal tanpa menunggu sidang isbat.
Ali Yusuf menegaskan, perbedaan hari raya dengan pemerintah sah saja, asalkan masing-masing memiliki dasar ilmiah dan dalil jelas.
“Dalam prinsip beragama, melaksanakan salat Id pada Jumat atau Sabtu tidak menjadi masalah,” jelasnya.
Tafsir Ulil Amri dalam Al-Qur’an
Menurut Ali Yusuf, ayat ulil amri dalam Surah An-Nisa ayat 59 menegaskan ketaatan mutlak hanya kepada Allah dan Rasul, sedangkan ketaatan kepada ulil amri bersyarat. Ulil amri dapat dipahami sebagai pemimpin pemerintahan, ulama, atau gabungan keduanya, sesuai bidang otoritas masing-masing.
Dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah melihat negara sebagai darul ahdi wa syahadah, sehingga aturan sosial diikuti warga, sementara urusan ibadah tetap merujuk ulama.
Respons Netizen dan Dukungan Publik
Penetapan Idulfitri 1447 H pada 20 Maret 2026 memicu beragam respons di media sosial. Meski beberapa akun menyebarkan narasi negatif, dukungan dan simpati warganet terhadap Muhammadiyah sangat besar, khususnya terhadap gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk perencanaan Hari Besar Islam.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya menghargai perbedaan dan menyikapi perbedaan penetapan hari raya dengan dewasa serta bijaksana. (Tim)















