Britainaja – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar migrasi fisik menembus ruang, melainkan sebuah proklamasi spiritual yang menguji batas nalar dan keimanan manusia. Terjadi pada periode penuh tekanan yang di kenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan), perjalanan ini menjadi titik balik bagi dakwah Rasulullah SAW setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib.
Landasan Teologis Isra: Perjalanan Malam ke Baitul Maqdis
Kepastian peristiwa Isra (perjalanan horizontal) telah di abadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an secara eksplisit. Hal ini di maksudkan agar tidak ada keraguan sedikit pun bagi umat manusia mengenai kebenaran peristiwa tersebut. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”
Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan tersebut bukan atas kehendak Nabi sendiri, melainkan atas kuasa Allah (bi’abdihi), yang secara logika ketuhanan, membuat hal mustahil menjadi sangat mungkin terjadi.
Pembersihan Hati dan Buraq: Persiapan Menuju Kesucian
Sebelum berangkat, Rasulullah mengalami prosesi pensucian jiwa. Dalam hadis yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW menceritakan momen pembelahan dadanya: “Datanglah kepadaku Jibril, lalu ia membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air zam-zam. Kemudian ia membawakan bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dalam dadaku…”
Setelah itu, hadirlah Buraq. Secara etimologi, kata ini berasal dari Barq yang berarti kilat. Hal ini sejalan dengan deskripsi hadis bahwa kecepatan makhluk ini melompat sejauh pandangan mata, sebuah fenomena yang hari ini sering di korelasikan oleh para ilmuwan dengan kecepatan cahaya.
Mi’raj dan Rahasia Sidratul Muntaha
Jika Isra tertulis dalam Surah Al-Isra, maka peristiwa Mi’raj (perjalanan vertikal ke langit) di gambarkan secara puitis dan mendalam dalam Surah An-Najm ayat 13-18:
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal… Sesungguhnya Muhammad telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Di titik inilah, Nabi Muhammad SAW mencapai Mustawa, tempat beliau mendengar kalam Allah tanpa perantara. Di sinilah “negosiasi” mengenai jumlah shalat terjadi. Nabi Muhammad menunjukkan empati yang luar biasa kepada umatnya dengan berkali-kali memohon keringanan atas saran Nabi Musa AS, sebagaimana terekam dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
Shalat sebagai “Mi’raj” Umat Islam
Kontekstualisasi paling penting dari peristiwa ini adalah posisi shalat. Jika para Nabi lain menerima wahyu di bumi, perintah shalat di berikan langsung di langit tertinggi. Hal ini menandakan kedudukan shalat yang sangat istimewa.
Secara filosofis, jika Nabi Muhammad melakukan Mi’raj secara fisik, maka umatnya melakukan “Mi’raj” secara spiritual melalui shalat. Sebagaimana ungkapan para ulama: “Ash-shalatu mi’rajul mu’minin” (Shalat adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman). Shalat menjadi media bagi kita untuk lepas sejenak dari gravitasi duniawi dan “curhat” langsung kepada Pemilik Alam Semesta.
Kesimpulan:
Menyandarkan pemahaman Isra Mi’raj pada dalil-dalil sahih membantu kita memahami bahwa Islam adalah agama yang memadukan spiritual dengan ketetapan hukum yang logis. Peristiwa ini adalah pengingat bahwa di balik setiap ujian berat yang menimpa seorang hamba, Allah telah menyiapkan skenario “penjemputan” menuju derajat yang lebih mulia. (Tim)















