Menyelami Hikmah Terdalam Peristiwa Isra Mi’raj

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Menyelami Hikmah Terdalam Peristiwa Isra Mi’raj. (Foto: gemini/britainaja.com)

Ilustrasi. Menyelami Hikmah Terdalam Peristiwa Isra Mi’raj. (Foto: gemini/britainaja.com)

Britainaja – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar migrasi fisik menembus ruang, melainkan sebuah proklamasi spiritual yang menguji batas nalar dan keimanan manusia. Terjadi pada periode penuh tekanan yang di kenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan), perjalanan ini menjadi titik balik bagi dakwah Rasulullah SAW setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib.

Landasan Teologis Isra: Perjalanan Malam ke Baitul Maqdis

Kepastian peristiwa Isra (perjalanan horizontal) telah di abadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an secara eksplisit. Hal ini di maksudkan agar tidak ada keraguan sedikit pun bagi umat manusia mengenai kebenaran peristiwa tersebut. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”  

Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan tersebut bukan atas kehendak Nabi sendiri, melainkan atas kuasa Allah (bi’abdihi), yang secara logika ketuhanan, membuat hal mustahil menjadi sangat mungkin terjadi.

Pembersihan Hati dan Buraq: Persiapan Menuju Kesucian

Baca Juga :  Panduan Puasa Rajab 2025: Jumlah Hari yang Dianjurkan dan Penjelasan Dalilnya

Sebelum berangkat, Rasulullah mengalami prosesi pensucian jiwa. Dalam hadis yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW menceritakan momen pembelahan dadanya: “Datanglah kepadaku Jibril, lalu ia membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air zam-zam. Kemudian ia membawakan bejana emas yang penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dalam dadaku…”

Setelah itu, hadirlah Buraq. Secara etimologi, kata ini berasal dari Barq yang berarti kilat. Hal ini sejalan dengan deskripsi hadis bahwa kecepatan makhluk ini melompat sejauh pandangan mata, sebuah fenomena yang hari ini sering di korelasikan oleh para ilmuwan dengan kecepatan cahaya.

Mi’raj dan Rahasia Sidratul Muntaha

Jika Isra tertulis dalam Surah Al-Isra, maka peristiwa Mi’raj (perjalanan vertikal ke langit) di gambarkan secara puitis dan mendalam dalam Surah An-Najm ayat 13-18:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal… Sesungguhnya Muhammad telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Di titik inilah, Nabi Muhammad SAW mencapai Mustawa, tempat beliau mendengar kalam Allah tanpa perantara. Di sinilah “negosiasi” mengenai jumlah shalat terjadi. Nabi Muhammad menunjukkan empati yang luar biasa kepada umatnya dengan berkali-kali memohon keringanan atas saran Nabi Musa AS, sebagaimana terekam dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

Baca Juga :  Menghitung Hari Menuju Malam Nisfu Syaban 1447 H

Shalat sebagai “Mi’raj” Umat Islam

Kontekstualisasi paling penting dari peristiwa ini adalah posisi shalat. Jika para Nabi lain menerima wahyu di bumi, perintah shalat di berikan langsung di langit tertinggi. Hal ini menandakan kedudukan shalat yang sangat istimewa.

Secara filosofis, jika Nabi Muhammad melakukan Mi’raj secara fisik, maka umatnya melakukan “Mi’raj” secara spiritual melalui shalat. Sebagaimana ungkapan para ulama: “Ash-shalatu mi’rajul mu’minin” (Shalat adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman). Shalat menjadi media bagi kita untuk lepas sejenak dari gravitasi duniawi dan “curhat” langsung kepada Pemilik Alam Semesta.

Kesimpulan:

Menyandarkan pemahaman Isra Mi’raj pada dalil-dalil sahih membantu kita memahami bahwa Islam adalah agama yang memadukan spiritual dengan ketetapan hukum yang logis. Peristiwa ini adalah pengingat bahwa di balik setiap ujian berat yang menimpa seorang hamba, Allah telah menyiapkan skenario “penjemputan” menuju derajat yang lebih mulia. (Tim)

Berita Terkait

Menghitung Hari Menuju Malam Nisfu Syaban 1447 H
Al-Hasan Ibnu Al-Haitsam: Sang Bapak Optik, Penerang Dunia dengan Cahaya Ilmu
Ibnu Yunus Al-Mishri: Sang Maestro Astronomi dan Matematika dari Mesir
Inilah Amalan Doa Terbaik untuk Menyambut Ramadan 2026
Abu al-Wafa al-Buzjani: Sang Jenius di Balik Kecanggihan Trigonometri Modern
Abu al-Qasim az-Zahrawi: Bapak Bedah Modern yang Mengubah Wajah Kedokteran Dunia
Al-Battani: Sang Pemuja Langit yang Mengoreksi Teori Astronomi Yunani
Tsabit bin Qurrah, Sang Maestro Geometri dan Penjaga Estafet Sains Modern
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:15 WIB

Menghitung Hari Menuju Malam Nisfu Syaban 1447 H

Kamis, 29 Januari 2026 - 13:01 WIB

Al-Hasan Ibnu Al-Haitsam: Sang Bapak Optik, Penerang Dunia dengan Cahaya Ilmu

Senin, 26 Januari 2026 - 16:00 WIB

Ibnu Yunus Al-Mishri: Sang Maestro Astronomi dan Matematika dari Mesir

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:03 WIB

Inilah Amalan Doa Terbaik untuk Menyambut Ramadan 2026

Minggu, 18 Januari 2026 - 21:37 WIB

Abu al-Wafa al-Buzjani: Sang Jenius di Balik Kecanggihan Trigonometri Modern

Berita Terbaru