Britainaja – Layar ponsel yang seharusnya menjadi jendela ilmu pengetahuan kini berubah menjadi sumber kegelisahan bagi banyak orang tua. Baru-baru ini, jagat maya di hebohkan oleh tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp yang di duga kuat beranggotakan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Isinya jauh dari cerminan etika pendidikan, memicu gelombang keprihatinan tentang bagaimana generasi muda kita berkomunikasi di ruang privat digital.
Meski interaksi tersebut terjadi melalui gawai pribadi dan di luar jam sekolah, dampak sosial yang di timbulkan tidak bisa di anggap remeh. Fenomena ini seolah menyingkap tabir tipis yang membatasi kehidupan nyata dan dunia maya anak-anak kita. Tanggung jawab kini tidak lagi bisa di lempar satu sama lain; sekolah dan rumah harus mulai duduk bersama menghadapi realitas digital yang semakin kompleks.
Kegaduhan ini membuat banyak orang tua tersentak. Ada kesadaran pahit bahwa anak usia belasan tahun secara emosional belum cukup matang untuk mengelola kebebasan di media sosial tanpa pendampingan ketat. Ruang obrolan yang tidak terpantau perlahan bisa menjadi inkubator perilaku menyimpang dan pola tutur kata yang kasar, yang jika di biarkan, akan menetap sebagai karakter permanen.
Pihak sekolah pun di dorong untuk mengambil peran lebih dari sekadar pengajar materi akademis. Pembinaan moral kini punya medan tempur baru: dunia virtual. Edukasi mengenai etika bermedia atau netiquette perlu di selipkan dalam kurikulum sebagai kebutuhan mendesak, agar siswa sadar bahwa jejak digital yang mereka buat hari ini memiliki konsekuensi panjang di masa depan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali mengingatkan betapa besarnya risiko paparan konten yang tidak sesuai usia. Tanpa literasi digital yang mumpuni, interaksi di grup-grup tertutup bisa merusak perkembangan psikologis anak. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memang menunjukkan tingginya angka pengguna internet usia sekolah, namun sayangnya, angka tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat kecakapan etika digital.
Para ahli menyarankan agar kasus viral ini tidak di selesaikan dengan hukuman yang mematikan masa depan anak. Pendekatan edukatif yang menyentuh nurani jauh lebih di butuhkan. Anak-anak perlu diajak berdialog untuk memahami mengapa tindakan mereka keliru, alih-alih hanya sekadar diberikan sanksi administratif yang mungkin hanya menimbulkan dendam.
Membangun Benteng Digital di Meja Makan
Kunci utama perlindungan anak di era digital sebenarnya di mulai dari komunikasi terbuka di meja makan. Orang tua tidak perlu menjadi polisi siber yang kaku, melainkan menjadi teman diskusi yang tepercaya. Membangun kepercayaan agar anak mau bercerita tentang aktivitas digital mereka jauh lebih efektif daripada sekadar memasang aplikasi pemantau (parental control) yang sering kali bisa di akali oleh kecerdasan teknis anak zaman sekarang.
Sinergi antara regulasi pemerintah, ketegasan sekolah, dan kehangatan pengawasan di rumah adalah benteng terakhir kita. Momentum viralnya grup WhatsApp pelajar ini seharusnya menjadi titik balik bagi kita semua untuk berhenti abai. Ruang digital harus di kembalikan fungsinya sebagai sarana tumbuh kembang yang sehat, bukan justru menjadi ladang ranjau yang merusak moral generasi penerus. (Tim)















