Britainaja – Mendidik anak agar mencintai Al-Quran tidak sekadar mengajari mereka membaca huruf hijaiyah. Orang tua perlu membangun kebiasaan berinteraksi dengan kalam Allah sejak usia dini.
Dalam Islam, rumah dan orang tua merupakan madrasah utama yang menanamkan iman serta akhlak lewat teladan dan kasih sayang. Riset perkembangan anak dari UNICEF pun menguatkan hal ini.
Komunikasi yang hangat, kebiasaan membaca bersama, dan pengasuhan yang responsif pada tahun-tahun awal kehidupan sangat memengaruhi tumbuh kembang bahasa, kemampuan belajar, serta ikatan emosional anak.
Berikut lima cara mendidik anak agar dekat dengan Al-Quran berdasarkan pedoman agama dan pendekatan pengasuhan yang tepat:
- Mengenalkan Al-Quran Sejak Usia Dini Kedekatan anak dengan Al-Quran berawal sebelum mereka pandai membaca. Ayah dan ibu bisa memperdengarkan lantunan murattal, membacakan surat-surat pendek, serta memasukkan Al-Quran ke dalam rutinitas harian rumah tangga.
Kebiasaan yang hadir secara konsisten membantu anak mengenali alunan ayat suci dan menghadirkan rasa nyaman saat beribadah. Anak-anak menyerap nilai hidup lewat pengalaman nyata yang berulang.
Allah SWT berfirman dalam QS At-Tahrim Ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا Yā ayyuhalladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membimbing anak mengenal Al-Quran sejak kecil.
- Menjadi Teladan Nyata Anak-anak meniru tindakan orang tua jauh lebih cepat daripada mendengar nasihat. Karena itu, memperlihatkan kebiasaan membaca Al-Quran dalam aktivitas harian menjadi langkah paling efektif.
Saat anak memperhatikan ayah atau ibu rutin mengaji selepas Subuh, sebelum tidur, atau usai Maghrib, mereka memahami bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup harian. Rasulullah SAW pun selalu menekankan pentingnya keteladanan dalam memimpin keluarga.
- Meluangkan Waktu Mengaji Bersama Mengaji bersama tidak harus menyita waktu lama. Durasi 10 hingga 15 menit setiap hari sudah sangat efektif untuk membentuk kebiasaan positif.
Orang tua bisa bergantian membaca ayat, membantu meluruskan makhraj huruf, lalu mengulas makna sederhana dari bacaan tersebut. Waktu berkualitas ini mempererat ikatan batin sekaligus mengasah kemampuan baca anak.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Khairukum man ta‘allamal-Qur’āna wa ‘allamah.
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari No. 5027).
- Menjelaskan Makna Ayat Sesuai Usia Menghafal ayat memang penting, namun memahami maknanya membuat jiwa anak makin dekat dengan Al-Quran. Penyampaian makna tidak perlu rumit—cukup gunakan bahasa sederhana yang dekat dengan dunia mereka.
Contohnya, saat membaca Surah Al-Fatihah, orang tua dapat menceritakan betapa luas kasih sayang Allah. Ketika membaca kisah Nabi Ibrahim, anak bisa belajar arti ketaatan. Diskusi interaktif seperti ini memicu daya kritis dan rasa ingin tahu anak secara alami.
- Membangun Rutinitas yang Menyenangkan Kunci utama keberhasilan mendidik anak terletak pada konsistensi, bukan pada tingginya target hafalan.
Orang tua dapat menyusun rutinitas ringan, seperti membaca satu halaman setiap malam atau menghafal satu ayat tiap pekan. Ciptakan suasana belajar yang tenang dan penuh kegembiraan. Daripada memarahi kesalahan bacaan anak, bimbing mereka secara lembut dan berikan pujian atas setiap kemajuan kecil.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ Aḥabbul-a‘māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla.
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perpaduan kasih sayang, keteladanan, serta kebiasaan positif di rumah menjadi kunci utama kedekatan anak dengan Al-Quran. Lewat pendampingan yang hangat, orang tua sedang menanamkan kecintaan mendalam pada Al-Quran yang akan terus bertumbuh hingga anak dewasa. (Tim)





