Britainaja – Obesitas dan diabetes telah menjadi dua masalah kesehatan serius yang terus menghantui Indonesia. Tren peningkatan kasus ini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga mulai merambah generasi muda, menciptakan beban ganda bagi sistem kesehatan nasional.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menekankan bahwa upaya pencegahan obesitas dan diabetes merupakan langkah strategis yang harus diprioritaskan. Langkah ini krusial untuk menekan beban penyakit tidak menular (PTM) sekaligus efisiensi pembiayaan kesehatan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Dante dalam acara Jakarta Diabetes Meeting 2025 yang digelar di Jakarta, pekan lalu.
Ancaman Nyata Peningkatan Kasus
Prof. Dante menjelaskan bahwa prevalensi obesitas dan diabetes di Tanah Air menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: saat ini, satu dari empat orang dewasa di Indonesia menderita obesitas.
Sementara itu, satu dari sepuluh orang telah didiagnosis menderita diabetes. Jika kondisi ini tidak dikendalikan, usia penderita diabetes akan semakin muda.
Prof. Dante memperkirakan, usia onset diabetes yang semula berada di rentang 50-an tahun dapat bergeser ke usia 30-an tahun. Pergeseran ini merupakan konsekuensi langsung dari tingginya angka obesitas.
Dampak Ekonomi yang Sangat Besar
Obesitas, lanjut Prof. Dante, tidak hanya menimbulkan persoalan medis, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang sangat besar bagi negara. Penyakit-penyakit yang berkaitan erat dengan obesitas dan diabetes memerlukan biaya pengobatan yang masif.
“Pada tahun 2024, pembiayaan untuk penyakit kardiovaskular, yang seringkali merupakan komplikasi dari obesitas dan diabetes, telah mencapai angka Rp25 triliun,” ungkap Prof. Dante.
Mayoritas beban biaya tersebut berasal dari penanganan kasus penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, menekan angka obesitas secara efektif secara otomatis akan menekan beban ekonomi yang ditanggung oleh negara.
Strategi Pemerintah untuk Pencegahan Dini
Wamenkes juga menyoroti urgensi pencegahan sedini mungkin. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan prevalensi diabetes pada anak, yang diprediksi melonjak hingga 15,6% pada tahun 2025.
Pemerintah merespons situasi ini dengan memperkuat strategi promotif dan preventif. Berbagai program telah digalakkan, termasuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 51 juta penduduk.
Selain itu, edukasi mengenai perilaku hidup sehat seperti program CERDIK dan GERMAS terus digalakkan. Pemerintah juga merencanakan penerapan cukai terhadap minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) sebagai langkah pencegahan.
Perubahan Perilaku Kunci Utama
Prof. Dante menegaskan bahwa upaya pencegahan obesitas dan diabetes tidak bisa bergantung hanya pada pengobatan. Dibutuhkan perubahan perilaku yang menyeluruh di tengah masyarakat.
Perubahan ini mencakup perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, manajemen stres yang baik, hingga menjaga kualitas tidur. Ia juga menyarankan agar setiap individu memiliki rencana perawatan personal (individual treatment plan) dan melakukan pemeriksaan rutin secara berkala.
Menutup sambutannya, Prof. Dante mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam mengendalikan obesitas dan diabetes.
“Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri. Kita semua harus menjadi bagian dari solusi ini. Cegah obesitas mulai hari ini untuk menyelamatkan generasi mendatang dari ancaman diabetes dan penyakit kardiovaskular,” tutupnya dengan tegas. (Tim)















