Britainaja – Nama Jabir bin Hayyan bukan sekadar catatan usang dalam buku sejarah. Di balik dinding laboratoriumnya yang sederhana di Kufah pada abad ke-8, pria yang di Barat di kenal dengan nama Geber ini meletakkan fondasi sains modern yang kita gunakan hingga detik ini. Tanpanya, mungkin kita tidak akan mengenal presisi dalam eksperimen kimia atau metode pemurnian zat yang menjadi dasar industri farmasi dan manufaktur global.
Lahir di Tus, Iran, sekitar tahun 721 M, Jabir tumbuh di era keemasan Islam. Ayahnya, seorang farmasis, kemungkinan besar menjadi pemantik awal ketertarikan Jabir pada dunia zat dan materi. Namun, Jabir melangkah lebih jauh dari sekadar meracik obat. Ia adalah sosok yang memaksa ilmu kimia keluar dari bayang-bayang klenik alkimia dan sihir, mengubahnya menjadi disiplin ilmu empiris yang berbasis pada pembuktian nyata.
Salah satu warisan terbesarnya yang sering kita lupakan adalah penemuan berbagai asam mineral. Jabir merupakan orang pertama yang berhasil mengisolasi asam klorida dan asam nitrat. Pencapaian ini bukan hal sepele; kemampuannya menciptakan Aqua Regia (air raja), larutan yang sanggup melarutkan emas, menjadi bukti betapa mutakhirnya pemikiran Jabir saat itu. Ia tidak hanya menebak-nebak sifat materi, ia menaklukkannya melalui distilasi, kristalisasi, dan sublimasi.
Jabir juga di kenal sangat disiplin soal metodologi. Dalam catatan-catatan kunonya, ia selalu menekankan bahwa seorang ilmuwan tidak boleh hanya berteori. Ia percaya bahwa kebenaran ilmiah hanya bisa ditemukan melalui percobaan yang berulang-ulang. Prinsip inilah yang kemudian hari menjadi standar emas dalam metode ilmiah modern di seluruh dunia.
Mengapa Jabir Melampaui Zamannya?
Jika kita melihat secara objektif, kontribusi Jabir bin Hayyan sebenarnya adalah jembatan antara filsafat kuno Yunani dan sains modern. Sebelum masanya, alkimia sangat tertutup dan penuh simbol mistis. Jabir mendobrak itu dengan menciptakan peralatan laboratorium yang fungsional, seperti alembic (alat distilasi) yang desain dasarnya masih bisa kita temukan di laboratorium kimia sekolah saat ini.
Analisis sejarah menunjukkan bahwa karya-karyanya, seperti Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab’een, menjadi buku wajib bagi para ilmuwan Eropa selama berabad-abad. Tanpa terjemahan karya Jabir ke bahasa Latin, revolusi ilmiah di Eropa mungkin akan tertunda jauh lebih lama. Ia membuktikan bahwa sains bersifat universal, melampaui batas geografis dan agama.
Pelajaran berharga dari sosok Jabir bin Hayyan bagi generasi digital saat ini adalah tentang ketekunan dan validasi data. Di era di mana informasi begitu mudah didapat namun sulit di verifikasi, semangat “eksperimentasi” Jabir mengingatkan kita untuk selalu menguji kebenaran sebelum mempercayainya. Warisannya adalah pengingat bahwa kemajuan peradaban selalu di bangun di atas meja laboratorium, bukan sekadar ruang diskusi tanpa bukti nyata. (Tim)















