Britainaja – Dunia internasional di kejutkan oleh guncangan politik hebat di Amerika Latin. Mahkamah Agung Venezuela secara resmi memberikan mandat kepada Delcy Rodriguez untuk mengemban tanggung jawab sebagai orang nomor satu di negara tersebut. Langkah cepat ini di ambil sebagai respons langsung atas hilangnya kekuasaan Nicolas Maduro yang di ringkus oleh otoritas Amerika Serikat.
Delcy Rodriguez telah mengucap sumpah setianya di hadapan Majelis Nasional pada Senin (5/1). Dalam upacara yang berlangsung khidmat tersebut, ia menegaskan bahwa pengambilalihan kursi kepemimpinan ini dilakukan demi stabilitas dan atas nama seluruh rakyat Venezuela. Transisi kekuasaan yang mendadak ini menjadi sorotan tajam karena terjadi di tengah ketegangan militer yang luar biasa.
Nicolas Maduro sendiri kini harus menghadapi jeratan hukum di Amerika Serikat dengan tuduhan serius terkait jaringan narkoba internasional. Jaksa mendakwa Maduro telah menyalahgunakan fasilitas kepresidenan dan kekuatan militer untuk melindungi jalur penyelundupan kokain yang melibatkan Kartel Sinaloa hingga geng Tren de Aragua. Tak hanya Maduro, dakwaan yang di perbarui pada Sabtu (3/1) juga menyeret istrinya, Cilia Flores, atas dugaan keterlibatan dalam kasus penculikan serta pembunuhan.
Operasi Kilat Pentagon di Caracas
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, membeberkan detil operasi penangkapan yang berlangsung sangat rapi di jantung ibu kota Venezuela. Sekitar 200 personel militer elite di terjunkan langsung ke Caracas dalam sebuah misi berisiko tinggi. Hegseth dengan bangga menyatakan bahwa tim tersebut berhasil membawa pulang target mereka tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Amerika.
Saat berbicara di Virginia, Kepala Pentagon itu menegaskan bahwa operasi ini merupakan bentuk dukungan terhadap penegakan hukum global. Ia juga melontarkan pesan keras bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu memburu setiap kapal penyelundup narkoba di wilayah perairan Amerika. Hegseth ingin menunjukkan kembali taring militer AS sebagai kekuatan tempur yang paling mematikan di dunia di bawah arahan pemerintahan yang baru.
China Berang, Kecam Aksi “Polisi Dunia”
Penangkapan seorang kepala negara oleh kekuatan militer asing memicu reaksi keras dari Beijing. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengecam tindakan tersebut dan mempertanyakan dasar hukum internasional yang di gunakan Amerika Serikat. Menurut Wang Yi, tidak ada satu pun negara yang berhak menasbihkan diri sebagai hakim atau polisi dunia yang bisa seenaknya mengintervensi kedaulatan negara lain.
Sikap China ini konsisten dengan prinsip non-intervensi yang mereka pegang teguh. Beijing menilai penggunaan kekuatan militer tanpa restu Dewan Keamanan PBB hanya akan menciptakan krisis yang lebih dalam. Senada dengan itu, perwakilan China di PBB, Sun Lei, menyatakan kekecewaannya dan menegaskan bahwa solusi militer bukanlah jalan keluar yang tepat bagi masalah politik sebuah negara.
Dampak Ketidakpastian Global
Penangkapan Nicolas Maduro menandai pergeseran drastis dalam geopolitik Amerika Latin. Selama bertahun-tahun, Venezuela menjadi medan tarik-ulur antara pengaruh Barat dan blok Timur (China-Rusia). Dengan beralihnya kepemimpinan ke tangan Delcy Rodriguez, stabilitas ekonomi Venezuela kini berada di titik nadir. Inflasi yang sudah kronis dan ketergantungan pada ekspor minyak akan semakin tertekan oleh potensi sanksi tambahan atau bahkan gejolak internal dari loyalis Maduro yang tersisa.
Bagi masyarakat internasional, peristiwa ini memberikan sinyal kuat tentang bagaimana Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump ingin menegaskan kembali doktrin Monroe di wilayah tersebut. Namun, tantangan terbesar bagi Rodriguez adalah meredam kemarahan massa dan menjaga agar institusi militer tetap solid. Tanpa legitimasi internasional yang kuat, Venezuela berisiko terjerumus ke dalam isolasi yang lebih parah yang bisa memicu gelombang migrasi besar-besaran di kawasan Amerika Selatan. (Tim)















