Britainaja – Langit Caracas yang biasanya riuh dengan aktivitas malam mendadak berubah mencekam pada Sabtu dini hari. Di bawah selimut kegelapan, ratusan pesawat tempur dan helikopter militer Amerika Serikat membelah ruang udara Venezuela dalam sebuah operasi skala besar yang berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Langkah berani ini di konfirmasi langsung oleh Donald Trump melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa kekuatan gabungan militer dan penegak hukum AS telah berhasil mengamankan pemimpin Venezuela tersebut langsung dari kediamannya. Trump menegaskan bahwa penangkapan ini merupakan titik puncak dari upaya panjang Washington dalam memerangi ancaman narko-terorisme dan krisis migrasi massal yang selama ini di tuding bersumber dari rezim Maduro.
Drama Penggerebekan Tengah Malam
Operasi yang berlangsung pada 3 Januari 2026 ini di mulai sekitar pukul 01.00 waktu setempat. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengungkapkan bahwa lebih dari 150 armada udara di kerahkan dari berbagai pangkalan di belahan bumi barat. Pasukan Delta Force yang menjadi ujung tombak operasi ini terbang rendah untuk menghindari deteksi radar sebelum akhirnya mendarat di kompleks kepresidenan.
Menurut laporan lapangan, Maduro dan Flores kabarnya masih terlelap saat pasukan elite tersebut merangsek masuk ke kamar tidur mereka. Meski sempat terjadi baku tembak di area sekitar kompleks, tim AS yang di bantu oleh unit khusus FBI berhasil menguasai keadaan dalam waktu singkat. Sekitar pukul 03.29 pagi, pasangan tersebut sudah berada di dalam pesawat evakuasi, meninggalkan wilayah udara Venezuela menuju kapal induk USS Iwo Jima.
Suasana Mencekam di Jantung Venezuela
Warga Caracas melaporkan adanya pemadaman listrik massal yang menyertai suara dentuman ledakan dan raungan mesin pesawat di langit ibu kota. Di kota Higuerote, rekaman video amatir menunjukkan kobaran api besar melalap area bandara setempat, menandakan adanya kontak senjata atau serangan udara taktis untuk melumpuhkan pertahanan lokal.
Mary Mena, koresponden yang memantau situasi di lokasi, menggambarkan suasana kota yang mendadak sunyi setelah badai serangan berlalu. Saluran televisi pemerintah terus menyiarkan pesan dari kementerian pertahanan yang meminta warga tetap tenang, sementara aparat militer mulai di siagakan di berbagai sudut kota untuk mencegah kerusuhan massal pasca-penangkapan sang presiden.
Analisis: Babak Baru Hubungan AS-Venezuela
Penangkapan seorang kepala negara aktif oleh militer negara lain adalah tindakan ekstrem yang jarang terjadi dalam sejarah modern, mengingatkan kita pada kasus Manuel Noriega di Panama tahun 1989. Secara hukum internasional, langkah ini di pastikan akan memicu perdebatan panjang mengenai kedaulatan negara. Namun, bagi Gedung Putih, langkah ini di anggap sebagai solusi final untuk menghentikan aliran narkoba dan tekanan migran di perbatasan AS.
Dampak dari operasi ini tidak hanya akan di rasakan di meja hijau New York, tempat Maduro akan di adili, tetapi juga pada stabilitas harga minyak dunia dan peta politik Amerika Latin. Tanpa adanya figur sentral di Caracas, Venezuela kini berada di ambang ketidakpastian; apakah akan menuju transisi demokrasi atau justru terjerumus dalam konflik internal yang lebih dalam. (Tim)















