Britainaja – Momen bersejarah tercipta di bawah tanah New York saat Zohran Mamdani resmi mengemban jabatan sebagai Walikota pada Kamis, 1 Januari 2025. Alih-alih memilih kemegahan gedung pencakar langit, Mamdani justru mengucap sumpah di stasiun kereta bawah tanah Balai Kota yang sudah lama tidak beroperasi. Namun, sorotan utama bukan hanya pada lokasinya yang unik, melainkan pada sebuah kitab suci Al-Qur’an tua yang ia gunakan sebagai alas sumpah.
Kitab suci tersebut bukanlah sembarang koleksi. Mushaf ini merupakan peninggalan dari era Suriah Utsmaniyah yang di perkirakan di salin pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Kehadiran benda bersejarah ini membawa pesan kuat tentang keterhubungan budaya dan sejarah panjang komunitas muslim di panggung global.
Menariknya, Al-Qur’an ini berasal dari koleksi pribadi Arturo A. Schomburg, seorang sejarawan legendaris yang mengabdikan hidupnya untuk mendokumentasikan warisan budaya keturunan Afrika. Meski Schomburg sendiri bukan penganut Islam, ia memiliki kecintaan luar biasa terhadap literatur yang merepresentasikan kontribusi masyarakat kulit hitam dan diaspora dunia. Koleksi inilah yang kini menjadi fondasi utama Schomburg Center for Research in Black Culture.
Kesederhanaan yang Penuh Makna
Jika di lihat dari fisiknya, mushaf ini tidak menonjolkan kemewahan yang berlebihan. Halaman-halamannya di hiasi tulisan tangan kecil dengan perpaduan tinta hitam dan merah yang tegas. Menurut para ahli, format seperti ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tersebut dulunya di rancang untuk di gunakan oleh masyarakat umum dalam keseharian, bukan sekadar pajangan istana.
Ciri khas wilayah Suriah Utsmaniyah terlihat pada jilidnya yang di hiasi stempel emas berbentuk medali dengan motif bunga yang artistik namun tetap bersahaja. Hiba Abid, kurator Studi Timur Tengah di New York Public Library (NYPL), menyebut bahwa kekuatan utama kitab ini terletak pada nilai kedekatannya dengan umat, bukan hanya pada estetika visualnya semata.
Anthony W. Marx, pimpinan NYPL, merasa terhormat melihat koleksi yang mereka jaga puluhan tahun kini menjadi bagian dari sejarah sipil New York. Baginya, keputusan Mamdani menggunakan Al-Qur’an koleksi Schomburg adalah simbol nyata dari inklusi dan pengakuan atas keberagaman identitas warga kota tersebut.
Jejak Literasi Islam di Tanah Amerika
Penggunaan Al-Qur’an bersejarah dalam pelantikan pejabat di Amerika Serikat sebenarnya memiliki preseden menarik yang menunjukkan akar Islam yang dalam di Benua Merah. Contoh paling populer adalah ketika Keith Ellison menggunakan Al-Qur’an milik Thomas Jefferson saat dilantik menjadi anggota Kongres pada 2007.
Konteks ini memperkuat pesan bahwa Islam bukanlah entitas baru dalam sejarah Amerika. Koleksi Arturo Schomburg yang mencakup literatur Islam membuktikan bahwa sejarah keturunan Afrika dan sejarah Islam sering kali saling beririsan (interseksional). Hal ini memberikan lapisan makna baru bagi warga New York mengenai pentingnya menjaga warisan intelektual dari berbagai latar belakang keyakinan.
Bagi warga yang ingin melihat langsung mushaf bersejarah ini, pihak perpustakaan akan memajangnya di Rotunda McGraw mulai 6 Januari mendatang. Pameran ini sekaligus menjadi kado istimewa dalam menyambut satu abad berdirinya Pusat Schomburg, sebuah institusi yang terus konsisten merayakan keberagaman manusia. (Tim)















