Britainaja – Gairah masyarakat untuk mengeksplorasi tempat baru tidak menunjukkan tanda-tanda surut sepanjang 2025. Perpaduan antara kalender libur nasional yang strategis, cuti bersama yang panjang, hingga euforia perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) menciptakan gelombang perjalanan yang masif. Mulai dari pelarian singkat ke pinggiran kota hingga perjalanan lintas benua, tren bepergian kini telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan gaya hidup yang lebih terencana sekaligus fleksibel.
Menariknya, akomodasi kini tak lagi sekadar tempat menaruh koper atau sekadar melepas lelah di malam hari. Bagi pelancong modern, hotel, vila, hingga apartemen telah berevolusi menjadi bagian inti dari narasi liburan itu sendiri. Berdasarkan data internal tiket.com pada kuartal keempat (Q4) 2025, angka pemesanan akomodasi meroket hingga 12% jika dibandingkan dengan awal tahun. Lonjakan ini membuktikan bahwa momentum hari besar tetap menjadi penggerak utama industri pariwisata di Indonesia.
Pola Perilaku Wisatawan: Cepat, Dekat, dan Hangat
Cisyelya Bunyamin, petinggi di bidang akomodasi tiket.com, memberikan pandangan bahwa pola tahunan ini cenderung konsisten namun kian matang. Wisatawan kini lebih selektif dan mulai memesan jauh-jauh hari untuk mengamankan tempat terbaik di musim puncak (peak season). Data menunjukkan bahwa mayoritas orang memilih waktu check-in pada rentang 21 hingga 27 Desember 2025, sebuah “pekan keramat” bagi keluarga yang ingin menutup tahun dengan suasana berbeda.
Dominasi short getaway atau liburan singkat menjadi sorotan utama dalam pola perjalanan akhir tahun ini. Dengan rata-rata durasi menginap sekitar 1,5 hari, masyarakat cenderung memilih destinasi yang aksesibel tanpa harus menghabiskan waktu lama di jalan. Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya tetap menjadi magnet utama, namun Bogor muncul sebagai kejutan baru dalam daftar lima besar destinasi domestik terpopuler.
Analisis Pergeseran Preferensi Wisatawan 2026
Jika kita membedah lebih dalam, masuknya Bogor ke dalam jajaran destinasi favorit menandakan adanya kejenuhan masyarakat urban terhadap pusat kota yang terlalu padat. Wisatawan kini mencari “ruang napas” yang menawarkan udara segar namun tetap terjangkau secara logistik. Selain itu, akomodasi tipe non-hotel seperti vila dan apartemen kian di gemari untuk family trip. Privasi dan fasilitas dapur mandiri menjadi alasan kuat mengapa penginapan jenis ini di anggap lebih memberikan kenyamanan layaknya di rumah sendiri (home away from home).
Di kancah internasional, Asia Tenggara masih memegang kendali sebagai destinasi jarak dekat favorit. Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Singapura menjadi pilihan utama karena kemudahan akses penerbangan dan persyaratan masuk yang relatif simpel. Bagi industri pariwisata, tren ini adalah sinyal bahwa fleksibilitas dan nilai tambah (seperti promo cashback atau fasilitas ekstra) menjadi penentu utama dalam memenangkan persaingan di pasar akomodasi yang semakin kompetitif.
Sebagai langkah konkret untuk mendukung antusiasme ini, program seperti Stay with Benefits hadir untuk memberikan apresiasi bagi mereka yang loyal melakukan pemesanan dalam jumlah tertentu. Inisiatif seperti ini tidak hanya menguntungkan konsumen dari sisi finansial, tetapi juga membantu menjaga loyalitas pelanggan di tengah banyaknya pilihan platform perjalanan saat ini. (Tim)













