Britainaja – Kabar menyejukkan datang bagi seluruh masyarakat Indonesia menjelang momentum besar hari raya. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan jaminan bahwa ketersediaan stok pangan secara nasional berada dalam posisi yang sangat mencukupi, bahkan di proyeksikan aman hingga setelah Lebaran 2026 mendatang. Kepastian ini di ambil berdasarkan analisis neraca pangan yang menunjukkan seluruh komoditas strategis berada pada jalur yang stabil.
I Gusti Ketut Astawa, selaku Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menegaskan bahwa pantauan terhadap neraca pangan memberikan sinyal positif bagi konsumen di seluruh tanah air. Saat memberikan keterangan di Jakarta pada Selasa (24/2), pihaknya menyatakan optimisme bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir akan kelangkaan barang pokok di pasar-pasar tradisional maupun ritel modern.
Data Kekuatan Stok Komoditas Strategis
Berdasarkan data terbaru, fondasi pangan Indonesia saat ini di topang oleh stok beras yang mencapai angka 47,21 juta ton serta jagung sebanyak 22,05 juta ton. Angka ini di anggap sangat solid untuk meredam potensi lonjakan permintaan saat Ramadan dan Idulfitri. Tidak hanya itu, komoditas protein seperti daging ayam tercatat sebesar 5,72 juta ton dan telur ayam ras mencapai 7,42 juta ton.
Untuk komoditas hortikultura yang seringkali fluktuatif, pemerintah mencatat ketersediaan cabai rawit sebanyak 968 ribu ton serta cabai besar di angka 994 ribu ton. Kedelai pun di pastikan aman dengan stok menyentuh 3,10 juta ton. Melimpahnya angka-angka ini di harapkan mampu menjadi jangkar bagi stabilitas harga pangan nasional.
Satgas Saber Awasi Ribuan Titik Distribusi
Pemerintah tidak hanya fokus pada jumlah stok, tetapi juga memperketat pengawasan di lapangan melalui Satgas Saber Pelanggaran Harga Pangan. Hingga 22 Februari kemarin, tim pengawas telah menyisir 1.329 titik yang mencakup rantai distribusi dari hulu hingga hilir, mulai dari tingkat produsen, distributor, hingga pedagang eceran di pasar.
Ketut menjelaskan bahwa tindakan tegas akan menyasar oknum pelaku usaha yang kedapatan menaikkan harga secara tidak rasional demi keuntungan sesaat. Fokus utama pengawasan ini adalah melindungi daya beli masyarakat agar tetap stabil. Sebagai bukti nyata, intervensi pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) sebanyak 10,9 ton telah berhasil menekan harga ke angka Rp70.000 per kilogram.
Mengapa Gerakan Pangan Murah Begitu Penting?
Upaya stabilisasi ini kian di perkuat dengan masifnya pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang sudah di gelar sebanyak 1.452 kali di 32 provinsi. Langkah jemput bola ini sangat krusial karena langsung menyentuh masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling terdampak oleh fluktuasi harga. Misalnya, penjualan daging ayam ras yang di patok Rp40.000 per kilogram sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP) menjadi bukti kehadiran negara dalam menjaga dompet warga.
Tips: Di tengah jaminan ketersediaan stok yang melimpah ini, sangat di sarankan agar masyarakat menghindari budaya panic buying. Membeli barang sesuai kebutuhan tidak hanya membantu menjaga ketersediaan barang di rak pasar, tetapi juga mencegah spekulan untuk memainkan harga. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat adalah kunci utama ketahanan pangan nasional. (Tim)















