Britainaja – Langkah besar Meta dalam membangun dunia virtual kembali menemui kerikil tajam. Raksasa teknologi pimpinan Mark Zuckerberg ini secara mengejutkan mengonfirmasi penutupan tiga studio pengembang game papan atas yang berada di bawah naungannya. Keputusan pahit ini menimpa Sanzaru Games, Armature Studio, dan Twisted Pixel, sebuah langkah yang menandai berakhirnya era ekspansi agresif konten eksklusif pada perangkat Meta Quest.
Penutupan ini merupakan bagian dari gelombang restrukturisasi masif di divisi Reality Labs yang selama ini menjadi pusat pengembangan jagat Metaverse. Berdasarkan informasi yang di himpun, pemangkasan ini berdampak pada lebih dari 1.000 karyawan. Langkah drastis tersebut di ambil seiring dengan pergeseran arah angin perusahaan yang mulai meninggalkan fokus penuh pada Virtual Reality (VR) murni.
Pergeseran Fokus: Dari Metaverse ke Teknologi Wearables
Juru bicara Meta mengungkapkan bahwa perusahaan tengah melakukan kalibrasi ulang terhadap strategi investasi mereka. Alih-alih terus menyuntikkan dana besar pada ekosistem game VR yang pertumbuhan pasarnya melambat, Meta kini mengalihkan sumber dayanya ke segmen wearables atau perangkat yang dapat di kenakan. Dana yang berhasil di hemat dari penutupan studio ini akan di alokasikan untuk mempercepat inovasi produk-produk seperti kacamata pintar (smart glasses) yang di anggap memiliki potensi pasar lebih luas.
Kehilangan Sanzaru Games menjadi kabar yang paling menyedihkan bagi komunitas gamer. Studio yang di pinang Meta pada 2020 lalu ini adalah otak di balik mahakarya Asgard’s Wrath 2, salah satu game VR dengan rating tertinggi sepanjang sejarah. Sebelum bernaung di bawah Meta, Sanzaru memiliki rekam jejak mentereng dengan menggarap waralaba ikonik seperti Sly Cooper dan Sonic Boom.
Nasib Tragis Armature dan Twisted Pixel
Sama halnya dengan Sanzaru, Armature Studio dan Twisted Pixel harus mengakhiri perjalanannya lebih cepat. Armature Studio, yang baru di akuisisi pada akhir 2022, sempat di puji dunia berkat keberhasilan mereka memboyong Resident Evil 4 ke format VR dengan sangat sempurna. Sayangnya, portofolio mereka di bawah Meta harus terhenti sebelum sempat melahirkan judul orisinal baru.
Sementara itu, Twisted Pixel yang di kenal lewat kreativitasnya di era Xbox 360 melalui judul Splosion Man, juga terpaksa gulung tikar. Studio ini sebenarnya baru saja mulai mengeksplorasi potensi penuh dari perangkat keras Meta. Penutupan serentak ini mengirimkan sinyal kuat kepada para pengembang pihak ketiga bahwa masa depan game eksklusif di platform Meta kini berada dalam ketidakpastian.
Sinyal Bahaya bagi Industri Game VR?
Keputusan Meta menutup studio-studio yang sebenarnya memiliki performa produk sangat baik (seperti peraih penghargaan Game of the Year VR) menunjukkan bahwa model bisnis Metaverse sedang mengalami krisis identitas. Meta tampaknya menyadari bahwa perangkat keras yang canggih tidak akan cukup tanpa ekosistem yang berkelanjutan secara finansial. Investasi di bidang wearables seperti kacamata AR (Augmented Reality) di anggap lebih menjanjikan karena fungsinya yang lebih dekat dengan gaya hidup sehari-hari daripada sekadar alat bermain game.
Bagi para pemain di industri ini, langkah Meta bisa menjadi peringatan bahwa ketergantungan pada satu raksasa teknologi sangatlah berisiko. Studio-studio independen kini mungkin akan lebih memilih untuk merilis game secara multi-platform (seperti ke PlayStation VR2 atau PC VR) guna menjaga stabilitas bisnis mereka, daripada terikat kontrak eksklusif yang bisa berakhir dengan penutupan mendadak akibat perubahan arah kebijakan korporat. (Tim)















