Melodi yang Belum Selesai di Playlist Kita
Lampu indikator di headphone Rian berkedip biru, menandakan perangkat itu sudah terhubung dengan laptopnya. Di luar, hujan bulan Januari turun tipis-tipis, menciptakan suasana yang sangat mendukung untuk siapa pun yang ingin tenggelam dalam melankoli.
Rian membuka Spotify. Jarinya terhenti pada sebuah collaborative playlist yang sampulnya berupa foto blur dua orang di depan sebuah toko kaset tua. Judulnya singkat: “.” (Titik).
Ia mengklik putar. Lagu “Heavy” mulai mengalun. Baru saja ia ingin menyesap kopi susunya yang sudah mendingin, sebuah notifikasi muncul di layar HP-nya.
Alya: “Masih dengerin lagu ini?”
Rian tersedak. Itu adalah pesan pertama dari Alya setelah tiga bulan mereka saling menjadi orang asing. Tiga bulan sejak “perpisahan” tanpa kata yang terjadi begitu saja setelah acara wisuda. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada orang ketiga. Hanya egosi dua anak muda yang merasa dunia sudah cukup luas untuk dijalani sendiri-sendiri.
Komunikasi di Balik Lagu
Rian tidak membalas pesan itu. Ia tahu, jika ia membalas dengan kata-kata, gengsinya akan runtuh. Ia memilih cara lain—cara mereka yang lama.
Rian mencari lagu “Keep Being You” dan menambahkannya ke dalam playlist tersebut. Itu adalah kode: Aku masih orang yang sama.
Hanya butuh dua menit bagi Alya untuk merespons. Ia menambahkan lagu “Glimpse of Us” dari Joji. Rian meringis. Lagu itu bercerita tentang seseorang yang mencari bayangan masa lalu di orang yang baru.
“Sial, dia masih jago mainin kode,” gumam Rian.
Malam itu, mereka seolah sedang berdebat lewat tracklist. Rian membalas dengan lagu yang bermakna penyesalan, Alya menimpali dengan lagu yang berbicara tentang rasa lelah. Playlist yang tadinya hanya berisi 12 lagu, kini membengkak menjadi 20 lagu dalam satu jam.
Antara Gengsi dan Rindu
Rian ingat betul bagaimana melodi ini dimulai. Dulu, mereka adalah dua orang yang merasa paling “paling satu frekuensi” sedunia. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kafe hanya untuk bertukar rekomendasi lagu indie yang belum banyak didengar orang.
Namun, di era digital ini, hubungan mereka terjebak dalam estetika. Mereka lebih sibuk memamerkan instastory saat jalan bareng daripada benar-benar bicara tentang masa depan. Ketika realitas setelah kuliah datang—tekanan mencari kerja dan ekspektasi orang tua—komunikasi mereka mendadak blank. Mereka terjebak dalam ghosting yang dilakukan secara kolektif.
Lelah dengan permainan kode, Rian akhirnya mengetik sesuatu di WhatsApp.
Rian: “Lagu terakhir yang kamu add itu maksudnya apa, Al?”
Alya: “Maksudnya, aku capek nebak-nebak, Yan. Kita ini apa? Masih lanjut atau cuma archive di masa lalu?”
Kalimat itu memukul Rian tepat di dada. Benar juga. Selama ini mereka hanya saling memantau lewat view story dan daftar lagu, tanpa pernah berani bertanya: Kita mau ke mana?
Melodi yang Terputus
Rian bangkit dari kursinya, mengambil gitar akustik yang tersandar di sudut kamar. Ia menyalakan fitur voice note di HP-nya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memainkan sebuah rangkaian nada—melodi yang pernah ia tulis di sebuah kafe kusam saat Alya sedang sibuk dengan laptopnya.
Melodi itu lembut, namun terasa belum selesai. Ada bagian yang sengaja ia biarkan menggantung.
Rian: (Mengirim voice note) Rian: “Ini melodi yang belum selesai aku buat pas kita terakhir ketemu. Aku nggak tahu cara lanjutinnya kalau nggak ada kamu.”
Status Alya berubah menjadi Online. Lalu Typing… yang muncul dan tenggelam selama hampir lima menit. Rian menunggu dengan jantung yang berdegup lebih kencang daripada ketukan drum lagu rock.
Alya: “Besok sore. Kafe yang sama. Bawa gitarmu.” Alya: “Kita selesaikan melodinya bareng-bareng. Dan kali ini, tolong bicara pakai suara, jangan pakai lagu aja.”
Rian menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas lega. Ia kembali ke layar laptopnya. Dengan satu klik mantap, ia mengubah kembali judul playlist “.” (Titik) menjadi “Ongoing”.
Ia menyadari satu hal: musik bisa mewakili perasaan, tapi tidak bisa menggantikan keberanian untuk jujur. Melodi yang indah tidak tercipta hanya dari satu instrumen yang egois, melainkan dari harmoni dua orang yang mau saling mendengarkan.
Malam itu, hujan masih turun, tapi Rian tidak lagi merasa dingin. Ia menutup laptopnya, mematikan lampu, dan bersiap untuk hari esok hari di mana melodi mereka akhirnya akan menemukan nada terakhirnya.
Mengapa Cerpen Cinta Anak Muda Sekarang Identik dengan Musik?
Musik bukan lagi sekadar hobi, melainkan identitas bagi anak muda zaman sekarang. Istilah seperti love language lewat lagu atau membuat collaborative playlist menjadi tren baru dalam berkencan. Cerpen “Melodi yang Belum Selesai” menggambarkan betapa sulitnya komunikasi jujur di tengah kemudahan teknologi digital.















