Britainaja – Perjalanan menyusuri lereng Gunung Slamet belum benar-benar tuntas jika lidah belum mencicipi kuliner khasnya. Di tengah udara dingin yang menusuk tulang, kepulan uap dari gorengan tempe mendoan dan aroma bakaran sate menjadi daya tarik yang sulit di tolak. Kuliner di sini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari budaya lokal yang lahir untuk menghangatkan suasana di tengah kabut yang seringkali turun menyelimuti perkampungan warga.
Ikon pertama yang wajib Anda buru adalah Mendoan Baturraden. Berbeda dengan tempe goreng pada umumnya, mendoan di lereng Slamet memiliki ukuran yang lebih lebar dengan balutan tepung yang masih lembut atau “mendo”. Rahasia kelezatannya terletak pada campuran daun bawang yang melimpah dan cocolan sambal kecap pedas-manis yang menggunakan cabai rawit segar hasil kebun warga. Menikmati mendoan panas saat baru di angkat dari wajan, di temani segelas teh poci gula batu, adalah kemewahan sederhana yang tidak akan Anda temukan di restoran bintang lima manapun.
Bagi mereka yang menginginkan hidangan yang lebih berat, Sate Kelinci menjadi pilihan yang eksotis sekaligus ikonik. Tekstur daging kelinci yang sangat halus, hampir menyerupai daging ayam namun dengan serat yang lebih padat, membuatnya sangat pas di padukan dengan bumbu kacang yang kental. Banyak warung di sepanjang jalur pendakian atau area wisata yang menyajikan sate ini langsung dari bakaran arang tradisional. Menariknya, masyarakat lokal percaya bahwa daging kelinci memiliki kandungan protein tinggi namun rendah kolesterol, menjadikannya pilihan favorit untuk memulihkan energi setelah seharian trekking di hutan pinus.
Kekuatan kuliner lereng Slamet terletak pada kesegaran bahan-bahannya. Sayuran pelengkap seperti selada dan tomat seringkali di petik langsung dari ladang di belakang warung. Interaksi hangat dengan penjual yang menyapa dengan logat “ngapak” yang khas menambah cita rasa otentik pada setiap gigitan. Wisata kuliner di sini adalah tentang merayakan kedekatan manusia dengan alam dan keramahan yang tulus, sebuah perpaduan yang selalu berhasil membuat siapa pun rindu untuk kembali berkunjung.
Tips Tambahan untuk Wisatawan:
Jika Anda ingin menikmati Sate Kelinci dengan suasana terbaik, carilah warung yang memiliki area outdoor atau lesehan dengan pemandangan langsung ke arah lembah. Waktu terbaik untuk berburu kuliner ini adalah menjelang senja, saat suhu mulai turun dan lampu-lampu kota Purwokerto mulai terlihat berkelap-kelip dari ketinggian. Jangan lupa juga membawa pulang keripik tempe khas setempat sebagai buah tangan untuk kerabat di rumah. (Tim)















