Britainaja – Gelombang pemberitaan mengenai retaknya rumah tangga Julia Prastini dan Na Daehoon akhirnya menemui titik terang dari sisi sang selebgram. Sosok yang akrab di sapa Jule ini memilih memecah keheningan melalui pernyataan terbuka di media sosial. Langkah ini di ambil setelah namanya terus menjadi buah bibir warganet akibat spekulasi miring yang beredar luas di jagat maya.
Melalui unggahan di Instagram Stories pada Selasa malam (20/1), ibu tiga anak tersebut menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Jule menyadari bahwa tindakan atau khilafnya di masa lalu mungkin telah mengecewakan banyak pihak. Tanpa berusaha membela diri secara berlebihan, ia mengakui segala kesalahan yang pernah di perbuatnya selama ini.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas berbagai tudingan miring, termasuk isu adanya orang ketiga yang mewarnai proses perpisahannya dengan pria asal Korea Selatan tersebut. Namun, alih-alih terjebak dalam pusaran klarifikasi yang saling menyerang, Jule lebih memilih untuk menatap ke depan. Ia menegaskan keinginan kuatnya untuk kembali menemukan jati diri yang sempat hilang.
Jule memaparkan bahwa langkah yang ia tempuh saat ini merupakan keputusan sadar yang tidak di pengaruhi oleh bayang-bayang masa lalu maupun ketakutan akan masa depan. Ia tampaknya ingin memulai lembaran baru dengan kaki sendiri. Fokus utamanya kini bukan lagi memuaskan ekspektasi orang lain, melainkan menjadi versi terbaik bagi dirinya dan anak-anaknya.
Menanggapi beragam reaksi publik yang terbelah, Jule mengaku sudah berlapang dada. Ia tidak menutup mata terhadap kritik tajam yang menghujani kolom komentarnya. Baginya, setiap cemoohan maupun dukungan merupakan cambuk berharga untuk terus berbenah. Ia memandang dinamika ini sebagai bagian dari proses pendewasaan hidup yang harus di lalui dengan kepala tegak.
Fenomena selebritas yang melakukan “tobat digital” atau klarifikasi di media sosial kini memang menjadi tren di Indonesia. Secara psikologis, langkah ini sering di ambil untuk memutus rantai narasi liar yang berkembang di luar kendali mereka. Sebagai figur publik, Jule memahami bahwa transparansi meski terasa menyakitkan adalah mata uang paling berharga untuk menjaga kepercayaan pengikutnya dalam jangka panjang.
Bagi para pengikut setianya, momen ini merupakan titik balik yang emosional. Keputusan untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah tekanan sosial yang besar menunjukkan sisi manusiawi dari seorang pembuat konten. Kita di ingatkan bahwa di balik layar gawai yang berkilau, ada perjuangan mental yang nyata untuk tetap waras dan berdaya. (Tim)















