Hukum Berkata Kasar Saat Puasa: Batal atau Sekadar Kurang Pahala?

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hukum Berkata Kasar Saat Puasa: Batal atau Sekadar Kurang Pahala? (Foto: AI)

Hukum Berkata Kasar Saat Puasa: Batal atau Sekadar Kurang Pahala? (Foto: AI)

Britainaja – Menjalankan ibadah di bulan Ramadhan bukan sekadar urusan memindahkan jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Momentum suci ini sejatinya menjadi kawah candradimuka bagi setiap Muslim untuk menempa karakter, mengontrol emosi, dan merapikan tutur kata. Namun, dalam dinamika interaksi sehari-hari, baik di dunia nyata maupun media sosial, sering kali ucapan kotor, makian, atau sumpah serapah meluncur begitu saja tanpa sengaja.

Kondisi tersebut kerap memicu kegelisahan di benak umat: apakah puasa saya tetap sah setelah mengumpat? Secara hukum fikih, mayoritas ulama sepakat bahwa berkata kasar, memaki, atau berbohong tidak membatalkan status puasa seseorang. Artinya, Anda tidak wajib mengganti (qadha) puasa tersebut di hari lain. Kendati demikian, ada konsekuensi spiritual yang jauh lebih fatal daripada sekadar rasa lapar yang tersisa.

Kehilangan Esensi di Balik Rasa Lapar

Merujuk pada penjelasan yang di himpun dari sumber otoritas keagamaan, perilaku lisan yang buruk bekerja seperti “penghapus” pahala. Puasa Anda sah di mata hukum, tetapi kosong di hadapan Tuhan. Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras bahwa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari ibadahnya kecuali rasa lapar dan dahaga yang sia-sia. Hal ini terjadi karena mereka gagal meninggalkan ucapan dusta dan perilaku tercela selama menahan lapar.

Baca Juga :  Panduan Cetak Kartu Ujian PPPK 2024 Tahap 2: Jangan Sampai Terlambat!

Logikanya sederhana: puasa adalah paket lengkap antara pengendalian fisik dan batin. Jika mulut berhenti mengunyah namun lidah terus “menguliti” kehormatan orang lain melalui ghibah atau cacian, maka kualitas ibadah tersebut mengalami degradasi besar-besaran. Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 148 juga menegaskan bahwa Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali bagi mereka yang memang dizalimi.

Strategi Menjaga Lisan di Tengah Provokasi

Ujian terberat saat berpuasa biasanya muncul ketika kita di hadapkan pada situasi yang memancing amarah. Islam mengajarkan sebuah manajemen konflik yang elegan. Jika ada seseorang yang menghina atau memprovokasi Anda, jangan membalasnya dengan level yang sama. Cukup katakan dalam hati atau ucapkan dengan tenang, “Aku sedang berpuasa.” Kalimat ini berfungsi sebagai rem darurat agar kita tidak terperosok dalam kubangan dosa lisan yang merugikan.

Baca Juga :  Tabrakan Maut di Kerinci, Dua Motor Bertabrakan, Satu Pengendara Tewas di Tempat

Bagi Anda yang secara refleks mengeluarkan kata kasar karena kebiasaan, segeralah beristighfar dan memohon ampunan. Kesadaran untuk langsung memperbaiki diri menunjukkan bahwa radar spiritual Anda masih berfungsi dengan baik. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan detox lisan, mengubah diksi negatif menjadi zikir atau kalimat-kalimat yang menyejukkan hati orang di sekitar kita.

Mengapa Menjaga Ucapan Begitu Krusial?

Dari perspektif psikologi ibadah, menjaga ucapan berkaitan erat dengan ketenangan jiwa (soul serenity). Ketika seseorang mampu mengerem lidahnya, secara otomatis detak jantung dan tekanan emosinya menjadi lebih stabil. Inilah tujuan utama dari Helpful Content dalam konteks spiritual: memberikan pemahaman bahwa agama hadir untuk memperbaiki peradaban manusia melalui akhlak, bukan sekadar ritual mekanis tanpa makna.

Memastikan lisan tetap terjaga juga berdampak pada hubungan sosial yang lebih harmonis pasca-Ramadan. Kebiasaan baik yang dibangun selama 30 hari ini diharapkan menjadi karakter permanen yang melekat, sehingga kita tidak hanya menjadi orang yang saleh secara ritual di masjid, tetapi juga santun secara sosial di tengah masyarakat. (Tim)

Berita Terkait

Sering Diabaikan, Inilah Kebiasaan Sepele yang Bisa Merusak Pahala Puasa Ramadhan
7 Hal yang Sering Disangka Membatalkan Puasa Padahal Boleh
Puasa Tapi Tidak Salat: Sia-siakan Lapar atau Tetap Sah?
Menyelami Keutamaan Salat Tarawih
Panduan Lengkap Salat Tarawih: Niat, Tata Cara, dan Jumlah Rakaat
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah 2026 Sebesar Rp50 Ribu: Simak Panduan Lengkap dan Cara Bayarnya
Jadwal Sidang Isbat Ramadhan 2026: Intip Tahapan Penentuan Awal Puasa 1447 H
Berbuka Puasa Mewah di Medan: Swiss-Belinn Tawarkan Promo Early Bird Ramadhan Swiss Delight
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:30 WIB

Hukum Berkata Kasar Saat Puasa: Batal atau Sekadar Kurang Pahala?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:03 WIB

Sering Diabaikan, Inilah Kebiasaan Sepele yang Bisa Merusak Pahala Puasa Ramadhan

Jumat, 20 Februari 2026 - 10:09 WIB

7 Hal yang Sering Disangka Membatalkan Puasa Padahal Boleh

Kamis, 19 Februari 2026 - 08:00 WIB

Puasa Tapi Tidak Salat: Sia-siakan Lapar atau Tetap Sah?

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:04 WIB

Menyelami Keutamaan Salat Tarawih

Berita Terbaru