Britainaja – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi banyak orang, rutinitas tahunan ini terkadang di jalankan secara mekanis sehingga mengabaikan detail kecil yang sebenarnya krusial. Ada beberapa tindakan yang sering di anggap lumrah atau sekadar “khilaf” kecil, namun jika di tinjau lebih dalam, hal tersebut justru berisiko membatalkan puasa atau setidaknya menghanguskan pahala yang seharusnya di dapat.
Salah satu yang paling sering di perdebatkan adalah memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh secara sengaja. Aktivitas seperti mengorek telinga dengan cotton bud atau membersihkan hidung terlalu dalam sering kali di lakukan tanpa pikir panjang. Dalam literatur fiqih, memasukkan benda ke dalam rongga tubuh yang terbuka (manfadh maftuh) hingga melewati batas tertentu dapat membatalkan puasa. Meskipun tujuannya adalah kebersihan, sebaiknya aktivitas ini di lakukan pada malam hari untuk menjaga kehati-hatian.
Selain itu, masalah lisan menjadi batu sandungan terbesar bagi umat Muslim. Bergosip atau membicarakan aib orang lain (ghibah) mungkin tidak membatalkan puasa secara teknis pembatalan fisik, namun secara nilai, puasa tersebut menjadi kosong. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Ketika seseorang gagal menjaga lidahnya dari dusta dan adu domba, esensi spiritual dari menahan diri sebenarnya telah runtuh.
Hal lain yang sering di anggap sepele adalah berlebihan dalam berkumur saat berwudhu atau melakukan istinsyaq (menghirup air ke hidung). Jika air tersebut masuk ke tenggorokan karena unsur kesengajaan dalam berlebihan, maka puasa tersebut bisa gugur. Sifat “berlebihan” inilah yang menjadi titik tekan; Islam mengajarkan moderasi, terutama saat sedang menjalankan ibadah puasa agar fisik tetap terjaga tanpa mencederai aturan syariat.
Menghabiskan waktu dengan tidur seharian juga menjadi fenomena yang jamak di temui. Memang benar tidur adalah ibadah daripada bermaksiat, tetapi jika tidur di lakukan untuk melarikan diri dari kewajiban lain atau hanya untuk “mempercepat” waktu berbuka, produktivitas puasa menjadi hilang. Esensi Ramadhan adalah melatih kedisiplinan dan empati, bukan menjadi ajang bermalas-malasan yang justru menjauhkan kita dari makna perjuangan menahan hawa nafsu.
Tips Tambahan: Penting untuk memahami perbedaan antara “batal puasa” (secara hukum/fiqih) dan “batal pahala” (secara esensi). Untuk menghindari hal-hal di atas, cobalah untuk mengalihkan aktivitas mengorek telinga atau hidung ke waktu setelah berbuka. Selain itu, gunakanlah siwak atau sikat gigi sebelum waktu imsak tiba. Jika ingin menyikat gigi di siang hari, pastikan pasta gigi tidak tertelan dan jangan terlalu banyak menggunakan air agar tidak ada sisa cairan yang tertinggal di kerongkongan. (Tim)















