Britainaja – Setiap peralatan elektronik di rumah membutuhkan daya dan durasi pemakaian yang berbeda-beda. Ketika token listrik berkurang lebih cepat dari biasanya, perangkat yang menyala nonstop sering kali menjadi biang keroknya.
Kamu bisa melacak sumber keborosan ini dengan mengevaluasi kebiasaan harian dan memantau angka pada meteran listrik (kWh).
PLN menjelaskan bahwa token listrik merupakan energi prabayar dalam satuan kWh yang akan terus berkurang seiring pemakaian seluruh alat elektronik di rumah. Lantas, bagaimana cara paling tepat menemukan perangkat yang paling banyak menyedot listrik?
Berikut 7 langkah praktis yang bisa kamu terapkan langsung untuk mengamankan sisa token listrik di rumah.
1. Periksa Label Daya Peralatan
Cek stiker spesifikasi daya yang menempel di bagian belakang, bawah, atau dekat kabel alat elektronik milikmu. Catat angka ber-satuan Watt tersebut untuk mengetahui konsumsi dasar saat alat beroperasi.
Bandingkan angka Watt antar-perangkat. Peralatan dengan Watt besar dan waktu pakai panjang jelas menyedot energi paling tinggi. Namun ingat, faktor utama keborosan bukan cuma angka Watt, melainkan seberapa lama kamu menggunakannya setiap hari.
2. Amati Durasi Pemakaian AC
Air Conditioner (AC) termasuk salah satu alat yang menyedot energi paling besar. Hitung total jam kerja AC harianmu, terutama jika alat ini menyala dari siang hingga malam hari.
Kamu bisa menguji efeknya dengan membandingkan konsumsi kWh pada hari pemakaian normal dengan hari saat durasi AC dikurangi. Pastikan kamu tidak mengubah pola pemakaian alat lain agar hasil perbandingannya akurat.
3. Evaluasi Cara Pakai Kulkas
Kulkas beroperasi penuh selama 24 jam. Kamu perlu memerhatikan kebiasaan harian, seperti frekuensi membuka pintu, kerapatan karet pintu, hingga kebiasaan memasukkan makanan panas yang memaksa mesin kulkas bekerja ekstra keras.
Amati perubahan konsumsi listrik selama beberapa hari setelah kamu memperbaiki kebiasaan tersebut. Jangan pernah mencabut colokan kulkas hanya demi eksperimen, sebab suhu penyimpanan makanan harus tetap terjaga. Jika listrik tetap boros, panggil teknisi untuk memeriksa komponen pendinginnya.
4. Batasi Mode Penghangat Penanak Nasi
Rice cooker mengonsumsi energi saat memasak dan mempertahankan suhu nasi. Banyak orang tidak sadar bahwa fitur penghangat (warm) yang menyala berjam-jam ikut menyumbang pemborosan.
Masaklah nasi sesuai porsi harian dan segera matikan mode penghangat saat nasi sudah tidak perlu dihangatkan. Langkah sederhana ini efektif menekan konsumsi listrik harian tanpa mengganggu kebutuhan makan keluarga.
5. Atur Penggunaan Dispenser Air
Dispenser dengan fitur pemanas dan pendingin otomatis menyedot listrik secara berkala untuk menjaga suhu air.
Matikan fitur pemanas atau pendingin jika kamu sedang tidak mebutuhkannya. Bandingkan angka meteran listrik setelah kamu menonaktifkan fitur tersebut. Jika kamu hanya menggunakan dispenser standar tanpa pemanas/pendingin, konsumsi listriknya tentu jauh lebih hemat.
6. Kelola Jadwal Mesin Cuci dan Setrika
Mesin cuci menyedot energi tinggi saat memutar tabung pencucian, sedangkan setrika membutuhkan daya besar untuk menghasilkan panas konsisten.
Kelola jadwal mencuci dan menyetrika secara berkala, misalnya dua sampai tiga hari sekali, daripada menggunakannya setiap hari dalam jumlah sedikit. Selalu cabut colokan setrika begitu selesai menggunakannya untuk menjaga keamanan rumah.
7. Bandingkan Angka Meteran Listrik
Catat angka kWh pada meteran sebelum kamu menyalakan alat elektronik tertentu. Setelah alat beroperasi dalam durasi tertentu (misalnya 1–2 jam), catat kembali angka kWh terakhir.
Selisih angka tersebut menunjukkan jumlah energi yang dihabiskan oleh perangkat tersebut. Lakukan pengujian ini satu per satu pada waktu berbeda agar kamu mendapat gambaran pasti perangkat mana yang paling boros. Jika angka kWh tetap melonjak padahal pemakaian sudah dihemat, segera hubungi teknisi PLN untuk memeriksa potensi kebocoran instalasi listrik. (Tim)






