Britainaja, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat pada awal sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/11/2025). Pergerakan pasar terlihat stabil di zona positif seiring sentimen ekonomi yang membaik. Namun, jelang penutupan sesi, IHSG berbalik arah dan bergerak ke zona negatif.
IHSG akhirnya di tutup di posisi 8.391 atau turun tipis 0,04 persen, setara penurunan 3,3 poin. Berdasarkan data perdagangan, terdapat 371 saham yang menguat, sementara 282 saham melemah, dan 157 lainnya stagnan.
Tim analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan tersebut lebih di sebabkan oleh kondisi pasar yang sudah berada pada level jenuh beli atau overbought. Kondisi ini terjadi setelah sejumlah saham mengalami kenaikan cepat dalam waktu relatif singkat.
Menurut Phintraco Sekuritas, beberapa indikator ekonomi sebelumnya sempat memberikan dorongan positif terhadap IHSG. Optimisme pemulihan ekonomi domestik, peningkatan likuiditas, serta ekspektasi aksi korporasi dari sejumlah emiten menjadi pendorong kenaikan indeks dalam beberapa pekan terakhir.
Faktor lain yang memberi sentimen positif adalah peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober yang mencapai 121,2. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2025, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Dari sisi perdagangan, total volume transaksi mencapai 44,79 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2,69 juta kali transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp20,91 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp15.345,61 triliun. Sektor teknologi, bahan baku, dan properti menjadi penopang utama IHSG pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, Tim Analis Phillip Sekuritas mencatat adanya aliran dana asing masuk ke pasar saham. Investor asing mencatat beli bersih senilai Rp102,72 miliar. Saham yang paling banyak di borong investor asing antara lain BREN, DEWA, INET, BMRI, dan WIFI. Adapun saham yang paling banyak di lepas asing mencakup ANTM, CUAN, BBRI, DSSA, dan BRPT.
Di tingkat regional, bursa Asia di tutup menguat. KOSPI Korea Selatan mencatat kenaikan paling tinggi dengan apresiasi 3,02 persen. Penguatan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap valuasi saham-saham yang terkait teknologi kecerdasan buatan. Selain itu, investor turut mencermati rilis data inflasi konsumen dan produsen di Tiongkok yang berada di atas perkiraan.
Menurut Phillip Sekuritas, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen global mulai stabil dan pelaku pasar kembali mengalokasikan dana ke aset berisiko, termasuk saham di kawasan Asia. (Tim)















