Mataram: Titik Temu Budaya, Sejarah, dan Alam di Lombok
Britainaja – Mataram bukan sekadar ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lebih dari itu, kota ini adalah simpul pertemuan berbagai warisan peradaban yang berkembang di Pulau Lombok. Dari peninggalan kerajaan Hindu-Bali, jejak penjajahan Belanda, hingga semarak kehidupan masyarakat Sasak yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi. Mataram adalah merupakan lanskap yang hidup, tempat di mana sejarah, budaya, dan alam berpadu dalam satu harmoni.
Sebagian wisatawan kerap menganggap Mataram hanya sebagai pintu masuk menuju destinasi terkenal seperti Gili Trawangan atau Gunung Rinjani. Padahal, kota ini menyimpan banyak tempat menarik yang menawarkan pengalaman liburan yang tak kalah mengesankan. Tempat tersebut tak hanya cocok bagi penyuka sejarah dan budaya saja, namun destinasi wisata di Mataram juga akan memanjakan pencinta kuliner, religi, hingga pemburu panorama alam.
Berikut ini 9 rekomendasi destinasi wisata unggulan di Mataram yang wajib untuk kamu kunjungi saat liburan bersama keluarga.
1. Pantai Loang Baloq: Ketika Ziarah dan Wisata Bertemu di Satu Titik

Terletak di Kecamatan Sekarbela, Pantai Loang Baloq menawarkan pengalaman yang unik. Di satu sisi, pantai ini menghadirkan hamparan pasir putih dan debur ombak Selat Lombok yang memikat. Namun di sisi lain, kawasan ini juga dikenal sebagai tempat ziarah yang penting bagi masyarakat setempat. Di sini terdapat Makam Loang Baloq, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan salah satu tokoh penyebar Islam di Lombok.
Menjelang sore, suasana di pantai ini kian syahdu. Bayangan pohon kelapa melintang di atas pasir, ditingkahi semilir angin laut yang membawa aroma asin dan suara seruan anak-anak bermain air. Tak jarang, para pengunjung duduk bersila di tepi pantai, merenung atau berdoa di makam, sembari menyaksikan matahari perlahan tenggelam ke balik cakrawala.
Google Maps: Klik disini
2. Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB: Menara Spiritualitas yang Menjulang di Tengah Kota

Tak lengkap jika mengunjungi Mataram tanpa menapakkan kaki di Islamic Center NTB. Masjid megah ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga landmark arsitektur modern yang mencerminkan kebesaran budaya Islam di Nusa Tenggara Barat.
Menara yang berdiri kokoh menjulang setinggi 99 meter tersebut melambangkan 99 Asmaul Husna. Dari atas menara, panorama Kota Mataram terbentang luas—dari garis pantai hingga jajaran pegunungan di kejauhan. Interior masjid dihiasi kaligrafi dan ornamen khas Sasak, menciptakan kesan agung namun tetap bersahaja.
Baik siang maupun malam, tempat ini selalu hidup. Pada malam hari, cahaya lampu menyorot tiap sisi kubah, menjadikan masjid tampak seperti permata yang berkilau di tengah kota.
Google Maps: Klik disini
3. Taman Mayura: Jejak Raja Karangasem dalam Lanskap Air dan Batu

Menyusuri Taman Mayura seperti membaca lembaran sejarah Pulau Lombok. Taman ini dibangun pada 1744 oleh Raja Karangasem dari Bali, sebagai taman air sekaligus tempat pertemuan para bangsawan. Yang menarik, di tengah kolam besar tersebut berdiri sebuah bangunan panggung kayu atau Bale Kambang yang dulunya digunakan sebagai tempat untuk menyelesaikan perkara hukum.
Suara gemericik air dari kolam, hembusan angin yang melewati daun-daun tua, dan bau lembap dari dinding batu yang sudah berumur ratusan tahun, semuanya membawa pengunjung seakan terlempar ke masa lalu. Tempat ini tak hanya menyuguhkan keindahan visual, tapi juga menyimpan nuansa mistis dan kontemplatif.
Google Maps: Klik disini
4. Museum Negeri NTB: Menyusuri Waktu Lewat Artefak dan Kain Tenun

Untuk memahami jantung budaya Lombok dan Sumbawa, kunjungan ke Museum Negeri NTB adalah langkah awal yang tak boleh dilewatkan. Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah, mulai dari alat pertanian tradisional, perhiasan emas suku Samawa, hingga koleksi kain tenun songket dan tenun ikat dari berbagai daerah di NTB.
Bangunan dua lantai ini juga menyediakan ruang interaktif, pameran temporer dan fasilitas multimedia yang menjadikan pengalaman belajar terasa menyenangkan. Museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda kuno, tapi juga media refleksi atas identitas kolektif masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Google Maps: Klik disini
5. Pantai Ampenan, Romansa Kota Tua di Pesisir Pulau Seribu Masjid

Pantai Ampenan menyimpan nostalgia masa lalu. Pada awal abad ke 20, kawasan ini adalah merupakan sebuah pelabuhan dagang yang sangat sibuk. Kini, warisan sejarah itu masih dapat ditemui dalam bentuk bangunan-bangunan tua bergaya kolonial yang berdiri di sepanjang jalan utama.
Suasana sore di pantai ini begitu romantis. Para penjual jagung bakar berjejer di tepi jalan, anak-anak bermain layangan, dan kaum muda-mudi menikmati waktu di tepi laut sambil berswafoto di bawah cahaya senja. Ampenan adalah cerminan harmoni antara kehidupan modern dan sejarah yang masih bernafas.
Google Maps: Klik disini
6. Pura Meru: Peninggalan Spiritual yang Megah di Jantung Kota

Berdiri megah di Cakranegara, Pura Meru adalah merupakan pura terbesar dan tertua di Pulau Lombok. Didirikan pada abad ke-18, pura ini memiliki 33 bangunan meru (menara beratap tumpang) sebagai lambang dewa-dewi dalam kepercayaan Hindu.
Meski berada di tengah kota yang mayoritas Muslim, namun Pura Meru tetap terpelihara dengan baik dan terbuka bagi wisatawan yang ingin melihat bagaimana masyarakat Lombok bisa menjaga harmoni dan toleransi antarumat beragama. Di sinilah nilai-nilai kebhinekaan tidak hanya menjadi slogan, melainkan kenyataan sehari-hari.
Google Maps: Klik disini
7. Taman Sangkareang: Paru-Paru Kota yang Ramah dan Bersahabat

Terletak di pusat kota, Taman Sangkareang adalah ruang publik yang menghadirkan kenyamanan bagi siapa pun. Suasananya teduh dengan banyak pohon rindang, bunga warna-warni, dan air mancur mini yang menyegarkan pandangan.
Pada akhir pekan, taman ini menjadi titik temu warga dari berbagai usia. Ada yang datang untuk berolahraga pagi, ada yang sekadar duduk membaca buku, dan ada pula yang bermain musik atau menjajakan kerajinan tangan. Pemerintah kota bahkan menyediakan wifi gratis, menjadikan taman ini sebagai tempat produktif sekaligus rekreatif.
Google Maps: Klik disini
8. Kampung Tenun Sukarara, Warisan Kriya yang Tetap Hidup

Tak jauh dari Mataram, sekitar 30 menit perjalanan ke arah Lombok Tengah, terdapat Kampung Tenun Sukarara. Di sinilah para perempuan Sasak mengabadikan budaya lewat benang dan alat tenun tradisional.
Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan kain songket yang rumit dan penuh ketelitian, mencoba sendiri menenun, atau berfoto dengan busana adat lengkap. Produk yang dihasilkan tak hanya kaya warna, tetapi juga sarat makna. Setiap motif tenun mengandung filosofi dan nilai sosial masyarakat Sasak.
Google Maps: Klik disini
9. Kuliner Mataram: Jejak Rasa yang Tak Mudah Dilupakan
Setelah lelah menjelajahi kota, waktunya untuk mengisi perut dengan kekayaan kuliner khas Lombok yang sangat menggoda selera. Mataram adalah surganya para pencinta kuliner pedas. Di sepanjang Jalan Pejanggik dan kawasan Cakranegara, Anda akan bisa menemukan sederet warung yang menyajikan berbagai makanan, berupa:
-
Ayam Taliwang: Daging ayam kampung bakar dengan bumbu cabai merah dan terasi
-
Sate Rembiga: Sate sapi empuk dengan bumbu manis-pedas
-
Plecing Kangkung: Sayur kangkung dengan sambal tomat segar
Tak sedikit pula restoran yang kini mengemas menu tradisional secara modern, sehingga cocok bagi wisatawan yang menginginkan suasana santai tanpa mesti kehilangan cita rasa yang otentik.
Google Maps: Klik disini
Mataram, Kota yang Tak Sekadar Dilalui
Mataram adalah destinasi yang bisa dinikmati siapa saja. Baik Anda pelancong yang mencari ketenangan spiritual, penikmat sejarah, penggila kuliner, atau hanya ingin melepas penat di tepi pantai, kota ini selalu punya ruang untuk Anda.
Jangan sekadar melintas. Beri waktu untuk meresapi setiap sudutnya. Sebab Mataram tak akan sekadar lewat dalam ingatan Anda, ia akan tinggal sebagai kenangan yang hangat dan penuh warna. (Wd)