Britainaja – Umat Muslim tidak hanya merayakan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah saja. Islam juga memberikan hari-hari istimewa berikutnya yang penuh dengan limpahan pahala, yaitu Hari Tasyrik.
Sayangnya, banyak orang menganggap momen ini hanya sebagai pelengkap libur lebaran kurban. Padahal, Hari Tasyrik menyimpan keutamaan yang luar biasa besar bagi siapa saja yang menghidupkannya dengan ibadah.
Lalu, apa sebenarnya makna dari hari-hari istimewa ini, dan tindakan nyata apa yang bisa kita lakukan untuk memanen pahala? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Memahami Arti Hari Tasyrik
Merujuk pada buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham, Hari Tasyrik merujuk pada tiga hari berturut-turut setelah Hari Raya Idul Adha, tepatnya tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Para ulama memiliki dua pandangan menarik mengenai asal-usul nama “Tasyrik”:
-
Menjemur Daging Kurban: Sebagian ulama mengaitkan kata tasyrik dengan aktivitas menjemur daging kurban di bawah terik matahari. Masyarakat zaman dahulu mengeringkan daging tersebut menjadi dendeng agar bisa bertahan dalam jangka waktu lama.
-
Waktu Salat Idul Adha: Ulama lain berpendapat bahwa nama ini merujuk pada pelaksanaan salat Idul Adha yang berlangsung saat matahari mulai memancarkan cahayanya yang terang (waktu dhuha).
Satu hal yang pasti, Rasulullah SAW melarang umatnya berpuasa pada waktu ini. Melalui riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW menegaskan esensi hari tersebut:
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
5 Amalan Utama pada Hari Tasyrik untuk Panen Pahala
Mengutip panduan praktis dari buku Panduan Muslim Sesuai Al-Qur’an dan As Sunnah karya Dr. Abu Zakariya Sutrisno, Anda dapat mengamalkan lima tindakan mulia ini untuk mengisi Hari Tasyrik:
1. Memperbanyak Zikir Kepada Allah
Allah SWT secara khusus memerintahkan hambanya untuk berzikir pada momen ini. Perintah tersebut tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 203:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…”
Sahabat Ibnu Abbas RA menegaskan bahwa maksud dari “hari yang berbilang” tersebut adalah Hari Tasyrik. Untuk menghidupkan suasana, Anda bisa melafalkan zikir-zikir utama berikut:
-
Tasbih: سُبْحَانَ الله (Subhanallah – Maha Suci Allah)
-
Tahmid: الْحَمْدُ للهِ (Alhamdulillah – Segala puji bagi Allah)
-
Takbir: اللَّهُ أَكْبَرُ (Allahu Akbar – Allah Maha Besar)
-
Tahlil: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa ilaaha illallah – Tidak ada Tuhan selain Allah)
-
Istighfar Singkat: أَسْتَغْفِرُ الله (Astaghfirullah – Aku memohon ampun kepada Allah)
-
Istighfar Penghapus Dosa: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أَتُوبُ إِلَيْه (Astaghfirullahal’adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih – Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya).
2. Mengumandangkan Takbir Setelah Salat Fardu
Melafalkan takbir (takbir muqayyad) setiap kali selesai menunaikan salat wajib merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda melalui riwayat Imam Thabrani, “Hiasilah hari-hari rayamu dengan takbir.”
Terkait batas waktunya, para ulama memiliki sedikit perbedaan pandangan:
-
Imam Syafi’i dan Imam Malik: Umat muslim mengumandangkan takbir mulai dari waktu Zuhur pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) hingga waktu Subuh pada hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).
-
Imam Ahmad, Abu Saur, dan Sufyan Saury: Umat muslim memulainya lebih awal, yaitu sejak Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Ashar pada hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).
3. Menikmati Hidangan dan Memperbanyak Syukur
Karena Allah melarang puasa pada hari-hari ini, Anda justru mendapat anjuran untuk menikmati rezeki berupa makanan dan minuman. Gunakan momentum ini untuk berkumpul bersama keluarga, menyantap olahan daging kurban, membagikannya kepada tetangga, dan mempererat tali silaturahmi. Ubah aktivitas makan dan minum Anda menjadi ibadah dengan landasan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
4. Menyembelih dan Membagikan Hewan Kurban
Bagi Anda yang belum sempat menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, jangan berkecil hati. Allah memberikan kelonggaran waktu hingga akhir Hari Tasyrik, tepatnya tanggal 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.
Rasulullah SAW mempertegas hal ini dalam hadisnya:
“Semua hari tasyrik adalah waktu untuk menyembelih.” (HR. Ahmad)
Pastikan Anda memanfaatkan sisa waktu ini. Jika melewati batas sore hari tanggal 13 Dzulhijjah namun Anda memiliki kewajiban kurban yang belum tunai, maka penyembelihan tersebut akan bernilai sebagai qadha (pengganti).
5. Memperbanyak Doa “Sapu Jagad”
Dua ulama tabiin, Ikrimah dan Atho’, menganjurkan umat Muslim untuk memperbanyak doa pada hari-hari ini, khususnya doa sapu jagad. Doa yang sangat ringkas ini merangkum seluruh kebaikan dunia dan akhirat. Bahkan, Rasulullah SAW paling sering melantunkan doa ini dalam kesehariannya:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar.”
Artinya: “Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mari kita manfaatkan tiga hari yang istimewa ini dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan Hari Tasyrik berlalu begitu saja tanpa zikir, tawa bahagia bersama keluarga, dan doa-doa terbaik untuk masa depan kita. (Tim)






