Britainaja – Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga di siang hari. Ketika surya tenggelam dan azan Isya berkumandang, umat Islam memasuki fase ibadah yang sangat khas dan penuh keberkahan, yakni salat Tarawih. Ibadah yang hanya hadir setahun sekali ini menjadi magnet spiritual yang menghidupkan malam-malam di seluruh penjuru masjid.
Secara esensi, Tarawih adalah bagian dari qiyamullail atau upaya menghidupkan malam dengan ketaatan. Para ulama sepakat bahwa meluangkan waktu di antara waktu Isya hingga menjelang fajar untuk bersujud adalah cara terbaik bagi seorang hamba untuk “mengetuk pintu langit” dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Daya tarik utama dari ibadah ini terletak pada janji pengampunan dosa. Bagi setiap muslim yang melangkahkan kaki menuju saf dengan balutan keimanan dan ketulusan, tersedia ruang luas untuk menghapus noktah kesalahan di masa lalu. Ibadah malam Ramadan di pandang sebagai bentuk perniagaan spiritual yang sangat di ridai oleh Allah SWT.
Kehangatan Ukhuwah dan Pahala Semalam Suntuk
Salah satu pemandangan paling indah di bulan suci adalah barisan saf yang rapat. Melaksanakan Tarawih secara berjemaah terbukti mampu mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah islamiyah antar sesama muslim. Di balik kebersamaan itu, tersimpan ganjaran yang luar biasa bagi mereka yang mampu bertahan hingga imam menutup salat dengan salam terakhir.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi memberikan kabar gembira: mereka yang menuntaskan salat malam bersama imam hingga selesai, akan di catat pahalanya seolah-olah telah beribadah sepanjang malam suntuk. Hal ini menjadi motivasi besar bagi jemaah untuk tidak beranjak lebih awal sebelum rangkaian ibadah benar-benar tuntas.
Jejak Orang Saleh dan Perisai Diri
Melaksanakan salat malam sebenarnya adalah tradisi lama yang terus dijaga oleh generasi orang-orang saleh terdahulu. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menekankan bahwa qiyamullail berfungsi sebagai penghapus kesalahan sekaligus benteng yang mencegah seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Analogi sederhananya, Tarawih dan salat malam lainnya berperan seperti “detoksifikasi spiritual”. Setelah seharian berinteraksi dengan hiruk-pikuk dunia, malam hari menjadi waktu pendinginan bagi jiwa. Dengan jumlah rakaat yang lebih panjang dari salat wajib, Tarawih melatih ketahanan fisik sekaligus kesabaran mental umat beriman.
Tips Memaksimalkan Tarawih:
Agar ibadah tidak terasa sekadar beban fisik, cobalah untuk memahami makna bacaan imam atau menyimak tadabur ayat yang dibacakan. Menjaga asupan makanan saat berbuka agar tidak berlebihan juga sangat membantu agar tubuh tetap ringan dan tidak mengantuk saat berdiri di atas sajadah. Ramadan adalah kesempatan emas yang singkat; melewatkan satu malam tanpa Tarawih berarti kehilangan satu peluang besar untuk meraih rahmat-Nya. (Tim)















