Britainaja – Lautan Indonesia sedang bersiap menghadapi transformasi besar. Bukan sekadar menjual kemilau pasir putih atau jernihnya air laut, kini fokus utama bergeser pada bagaimana menjaga napas alam kepulauan agar tetap panjang. Sebuah gerakan kolektif mulai tumbuh di kalangan pegiat lingkungan dan pelaku industri untuk mengubah wajah pariwisata menjadi lebih bertanggung jawab.
Pengelolaan limbah menjadi garda terdepan dalam menjaga reputasi destinasi wisata nasional. Perubahan ini menuntut pergeseran paradigma, di mana keindahan alam tidak lagi dianggap sebagai anugerah yang datang dengan sendirinya, melainkan aset yang harus di perjuangkan kelestariannya lewat aksi nyata.
Suzy Hutomo, sosok di balik Ecotourism Bali, menegaskan bahwa urusan sampah adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap individu. Menurut Suzy, setiap pelaku wisata harus sadar bahwa daya tarik Bali yang memukau menuntut pengorbanan dan investasi nyata dalam sistem pengolahan limbah.
Ditemui setelah memandu diskusi di ajang Bali Ocean Days 2026, Suzy mengingatkan bahwa operator wisata memiliki peran ganda. Mereka tidak hanya bertugas melayani kenyamanan tamu, tetapi juga harus mampu mengedukasi wisatawan agar berperilaku ramah lingkungan. Sinergi ini dianggap sebagai fondasi utama untuk mempertahankan pesona bahari Nusantara dalam jangka panjang.
Inovasi Teknologi sebagai Solusi Logistik
Senada dengan visi tersebut, CEO Wedoo Valerine Chandrakesuma melihat kesehatan ekosistem laut sebagai jantung ekonomi pariwisata. Valerine menekankan bahwa wisatawan global memiliki standar yang tinggi. Jika terumbu karang mati dan ekosistem bawah laut rusak akibat polusi, Indonesia akan kehilangan daya saingnya di mata dunia.
Melalui teknologi mesin pengolah sampah mutakhir, Valerine mencoba memecahkan masalah klasik di wilayah terpencil. Mesin ini mampu menyusutkan volume sampah hingga 95 persen, sehingga kendala logistik dan biaya operasional yang tinggi bisa ditekan secara signifikan. Dengan pendekatan ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset ekonomi yang bisa didaur ulang.
Ia pun menaruh harapan besar pada ketegasan pemerintah. Baginya, regulasi yang kuat dan pengawasan yang konsisten adalah kunci agar kekayaan laut Indonesia bisa dinikmati hingga ribuan tahun ke depan.
Belajar dari Keberhasilan Desa Pemuteran
Kisah sukses konservasi juga datang dari pesisir Desa Pemuteran, Bali. Komang Astika, Manajer Yayasan Karang Lestari, mengenang masa-masa sulit saat ekosistem karang di wilayahnya hancur. Namun, berkat metode biorock dan kesadaran kolektif warga, kehidupan bawah laut di sana perlahan pulih dan kini menjadi daya tarik wisata kelas dunia.
Inisiatif lokal ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem berbanding lurus dengan peningkatan kualitas ekonomi masyarakat. Transformasi dari praktik penangkapan ikan yang merusak menjadi aksi konservasi telah mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang kesejahteraan yang berkelanjutan.
Mengapa Sustainable Tourism Menjadi Harga Mati?
Dalam peta persaingan pariwisata global, konsep quality tourism kini lebih dihargai daripada mass tourism. Wisatawan modern, terutama generasi milenial dan Gen Z, cenderung memilih destinasi yang memiliki komitmen lingkungan yang jelas. Indonesia, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki risiko sekaligus peluang terbesar dalam tren ini.
Pemerintah melalui Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa komitmen nasional saat ini adalah membentuk pariwisata yang inklusif dan tangguh. Dukungan kebijakan kini diarahkan pada aspek keselamatan dan keberlanjutan. Ini adalah sinyal kuat bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak lagi hanya soal jumlah kunjungan, tetapi sejauh mana alam tetap terjaga untuk generasi mendatang. (Tim)















