Britainaja – Siklus tahunan lonjakan harga pangan kembali menjadi fokus utama pemerintah saat kalender masehi mulai mendekati bulan suci Ramadan. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja memetakan sejumlah komoditas yang secara historis selalu menjadi “biang kerok” kenaikan inflasi di tanah air. Nama-nama seperti daging ayam ras, telur, beras, minyak goreng, hingga cabai rawit kembali masuk dalam radar pengawasan ketat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, mengingatkan bahwa pola kenaikan harga ini bukanlah hal baru. Fenomena ini muncul berulang kali setiap kali masyarakat mulai menyambut awal Ramadan. Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang berlangsung di Jakarta, ia menekankan agar semua pihak segera melakukan langkah antisipasi mengingat bulan puasa akan tiba dalam hitungan pekan.
Jika berkaca pada Ramadan 2025, bawang merah tercatat sebagai penyumbang inflasi paling dominan. Di belakangnya, menyusul komoditas lain seperti ikan segar, cabai rawit, daging ayam, dan beras yang terus membayangi daya beli masyarakat. Meski begitu, tidak semua bahan pangan mengalami kenaikan. Beberapa produk hortikultura seperti tomat dan cabai merah terkadang justru memberikan andil deflasi yang sedikit meredam gejolak harga secara keseluruhan.
Suara peringatan juga datang dari Kementerian Dalam Negeri. Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, menyoroti fenomena kenaikan harga yang seringkali di anggap tidak masuk akal. Baginya, kenaikan harga di momen hari besar adalah hal lumrah, namun jika lonjakannya mencapai tiga hingga empat kali lipat, itu sudah masuk kategori tidak wajar. Ia memberikan gambaran ekstrem di mana harga barang yang semula Rp30 ribu bisa meroket hingga Rp120 ribu di pasar.
Angka inflasi pada periode Lebaran tahun lalu menjadi rapor merah yang tidak ingin di ulangi. Dari angka normal bulanan di kisaran 0,3 persen, inflasi melonjak drastis hingga 1,6 persen, sebuah lonjakan lebih dari lima kali lipat. Pemerintah berkomitmen penuh untuk melakukan pengendalian harga sejak dini, memastikan rantai distribusi aman sehingga masyarakat tidak perlu menanggung beban ekonomi yang terlalu berat saat menjalankan ibadah.
Memahami Psikologi Pasar dan Stok Pangan
Gejolak harga menjelang Ramadan seringkali di picu oleh dua faktor utama: meningkatnya permintaan rumah tangga dan aksi spekulasi di tingkat pedagang. Psikologi masyarakat yang cenderung menyetok bahan pangan lebih banyak dari biasanya menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Di sinilah peran Satgas Pangan sangat krusial untuk memastikan tidak ada penimbunan di gudang-gudang distribusi.
Sebagai konsumen, langkah paling bijak adalah dengan melakukan belanja secara terencana dan tidak melakukan panic buying. Membeli kebutuhan secukupnya akan membantu menjaga stabilitas harga di pasar lokal. Selain itu, memantau harga melalui aplikasi pasar digital milik pemerintah daerah dapat menjadi panduan agar Anda tidak terjebak membeli bahan pokok dengan harga yang sudah di mainkan oleh oknum pedagang nakal. (Tim)















