Britainaja – Nama selebgram Julia Prastini, atau yang lebih akrab di sapa Jule, kembali berada di tengah pusaran kontroversi. Setelah sempat di terpa isu miring terkait keretakan rumah tangganya dengan Daehoon, kini Jule memicu perdebatan panas lantaran unggahan video yang menunjukkan perubahan penampilannya secara drastis. Ia terlihat tampil tanpa mengenakan hijab, sebuah identitas yang selama ini melekat erat pada citranya di dunia digital.
Kehebohan ini bermula dari potongan video yang tersebar luas di platform TikTok, salah satunya melalui akun @siskhaaml_. Dalam rekaman tersebut, Jule tampak asyik berjoget dengan mengenakan pakaian model tank top. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa video tersebut awalnya di unggah sendiri oleh Jule melalui Instagram Story pribadinya, sebelum akhirnya di hapus tak lama kemudian. Sayangnya, kecepatan jemari netizen dalam melakukan rekam layar membuat konten tersebut tetap abadi dan menyebar ke berbagai akun gosip.
Bagi banyak pengikutnya, perubahan ini di rasa mengejutkan. Apalagi Jule memiliki latar belakang sebagai mantan santri, sebuah fakta yang sering di banggakan para penggemarnya di masa lalu. Sikapnya yang kini terkesan lebih berani dan blak-blakan dalam menunjukkan gaya hidup barunya memicu reaksi beragam. Sebagian netizen masih memuji kecantikan parasnya, namun gelombang kekecewaan tampak lebih mendominasi kolom komentar.
Reaksi keras pun bermunculan di akun-akun besar seperti @pembasmii.kehaluan. Sejumlah warganet bahkan terang-terangan menyerukan aksi boikot terhadap merek atau brand yang masih menggunakan jasa Jule sebagai promotor. Mereka berargumen bahwa perubahan sikap dan isu-isu personal yang menyertainya belakangan ini telah melunturkan kepercayaan publik. Kritik tajam mengenai hilangnya “aura” positif hingga tudingan sengaja mencari perhatian demi menjaga popularitas terus mengalir deras.
Fenomena “Debranding” Selebritas dan Dampak Psikologisnya
Melihat fenomena ini dari sudut pandang sosiologi digital, apa yang di alami Julia Prastini merupakan bentuk debranding yang berisiko tinggi. Ketika seorang publik figur di kenal dengan citra religius atau konservatif, perubahan gaya hidup yang kontras sering kali di anggap sebagai “pelanggaran kontrak sosial” oleh para pengikutnya. Hal inilah yang memicu kemarahan massa digital, karena adanya perasaan dikhianati atas ekspektasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
Di sisi lain, penting bagi kita untuk memahami bahwa tekanan di dunia media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental dan proses pencarian jati diri seseorang. Menghakimi atau melakukan perundungan massal (cyberbullying) bukan hanya merusak reputasi subjek, tetapi juga mencerminkan toksisitas lingkungan digital kita. Alangkah baiknya jika kritik yang diberikan tetap mengedepankan etika, tanpa harus menyerang sisi privasi atau kehormatan seseorang secara berlebihan.
Bagi para kreator konten, kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa konsistensi citra diri sangat berpengaruh pada nilai jual di mata brand. Namun, bagi masyarakat, ini adalah pengingat bahwa publik figur tetaplah manusia biasa yang bisa berubah, meski perubahan tersebut tidak selalu selaras dengan keinginan khalayak luas. (Tim)















