Britainaja – Dunia pariwisata sedang mengalami pergeseran besar, dan motor penggeraknya tidak lain adalah Generasi Z. Dalam perhelatan MarketHub Asia 2026 yang berlangsung di Hilton Nusa Dua, Bali, Kamis (5/2), terungkap bahwa pola perjalanan anak muda zaman sekarang tidak lagi sekadar soal pamer foto di destinasi ikonik. Mereka mencari sesuatu yang lebih dalam: transformasi diri.
Javier Cabrerizo, Direktur Strategi dan Transformasi Utama di HBX Group, berbagi pandangan menarik mengenai fenomena ini. Perusahaan traveltech raksasa asal Spanyol tersebut melihat adanya pergeseran dari sekadar bertamasya menjadi experiential travel. Gen Z bukan tipe turis yang betah berlama-lama di pusat kota yang padat; mereka justru pemburu “hidden gem” sejati.
Mencari Autentisitas di Pelosok Desa
Menurut Javier, generasi ini lebih memilih menjelajahi kota lapis kedua atau area pedesaan yang belum terjamah banyak orang. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka saat menemukan tempat unik yang belum tersentuh arus utama pariwisata. Bagi Gen Z, perjalanan adalah cara mereka menemukan sisi baru dalam diri melalui interaksi yang autentik dengan budaya lokal.
Satu tantangan besar bagi industri saat ini adalah kecepatan akses. Javier menyoroti adanya kesenjangan antara momen saat Gen Z mendapat inspirasi di media sosial dengan proses pemesanan tiket atau hotel. Generasi yang di gerakkan oleh perasaan dan inspirasi batin ini menuntut proses yang instan. Begitu mereka melihat konten yang menggugah di layar ponsel, mereka ingin langsung bisa memesannya tanpa prosedur yang berbelit.
Dikotomi Unik: Teknologi di Rumah, Kejutan di Tujuan
Ada kontradiksi menarik dalam gaya hidup digital Gen Z. Javier menjelaskan bahwa sebagai digital natives, mereka adalah pengadopsi awal kecerdasan buatan (AI). Mereka sangat terbantu dengan kehadiran asisten virtual untuk merancang itinerary yang sempurna saat masih berada di rumah. AI di anggap sebagai alat yang efisien untuk urusan logistik dan administrasi perjalanan.
Namun, begitu kaki mereka menginjakkan kaki di destinasi tujuan, teknologi seolah di kesampingkan demi mendapatkan pengalaman yang benar-benar nyata. Mereka menginginkan kejutan, interaksi manusiawi, dan suasana yang tidak bisa di replikasi oleh algoritma mana pun. Inilah model hibrida masa depan: kemudahan teknologi yang berpadu mesra dengan kepercayaan personal.
Masa Depan “Agentic Travel”
Melihat pemaparan Javier, kita bisa menyimpulkan bahwa peran agen perjalanan tidak akan hilang, melainkan berevolusi. Di masa depan, agen konvensional mungkin akan bertransformasi menjadi konsultan yang didampingi oleh asisten AI spesialis. Interaksi akan berbasis percakapan cerdas yang tetap mempertahankan sentuhan emosional.
Tips bagi pelaku usaha pariwisata lokal: mulailah membenahi narasi digital desa wisata atau destinasi off-the-beaten-path Anda. Gen Z adalah pasar yang sangat setia jika mereka merasa nilai-nilai autentisitas yang mereka cari terpenuhi. Jangan hanya menjual fasilitas, juallah cerita dan pengalaman unik yang hanya bisa di dapatkan di tempat Anda. (Tim)















