Britainaja – Tren mengonsumsi makanan yang dikukus kini semakin diminati masyarakat seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat. Metode memasak ini dianggap sebagai jalan pintas paling efektif untuk menjaga kualitas nutrisi bahan pangan. Namun, di balik popularitasnya, ada detail-detail teknis terkait gizi yang sering kali luput dari perhatian para ibu rumah tangga maupun penggiat diet.
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.Si., mengonfirmasi bahwa mengukus memang jauh lebih unggul dibandingkan menggoreng atau merebus. Keunggulan utamanya terletak pada minimnya kontak bahan makanan dengan air mendidih secara langsung. Hal ini krusial karena beberapa vitamin esensial bersifat larut air dan sangat sensitif terhadap suhu ekstrem.
Metode pengukusan memungkinkan uap panas mematangkan makanan secara perlahan tanpa merusak struktur kimiawi nutrisi di dalamnya. Dengan begitu, cita rasa asli, warna, hingga tekstur bahan makanan tetap terjaga dengan baik. Namun, durasi waktu tetap menjadi variabel kunci yang menentukan apakah gizi tersebut selamat sampai ke meja makan atau justru hilang karena panas yang berlebih.
Mengapa Mengukus Lebih Baik dari Merebus?
Perbedaan mendasar antara mengukus dan merebus terletak pada medium penghantar panasnya. Saat merebus, vitamin yang larut dalam air—seperti Vitamin B kompleks dan Vitamin C—cenderung akan berpindah ke dalam air rebusan. Jika air tersebut tidak ikut dikonsumsi, maka manfaat gizi dari sayuran tersebut akan terbuang sia-sia.
Sebaliknya, uap air pada proses pengukusan hanya bertugas mematangkan tanpa melarutkan kandungan internal bahan pangan. Pakar dari IPB tersebut mengingatkan bahwa selain vitamin, mineral penting juga tetap tertahan di dalam jaringan makanan jika dikukus dengan benar. Teknik ini sangat direkomendasikan untuk mengolah sayuran hijau, umbi-umbian, hingga sumber protein seperti ikan yang teksturnya mudah hancur.
Tips Optimasi Nutrisi: Tak Sekadar Menaruh di Klakat
Meskipun mengukus adalah metode yang sangat baik, ada beberapa kesalahan umum yang sering merusak manfaatnya. Salah satunya adalah memotong sayuran menjadi bagian yang terlalu kecil sebelum dikukus. Semakin luas permukaan bahan makanan yang terpapar uap, semakin besar peluang oksidasi nutrisi terjadi. Sebaiknya, potong bahan makanan dalam ukuran yang agak besar atau kukus secara utuh jika memungkinkan.
Variasi suhu juga memainkan peran penting. Pastikan air sudah mendidih dan uap sudah terbentuk sempurna sebelum memasukkan bahan makanan ke dalam kukusan. Teknik ini memperpendek waktu paparan panas, sehingga vitamin yang sensitif terhadap suhu tinggi tidak cepat rusak. Untuk sayuran seperti brokoli atau bayam, waktu pengukusan ideal biasanya hanya berkisar antara 3 hingga 5 menit agar warnanya tetap hijau segar dan teksturnya masih renyah (al dente).
Dalam perspektif keamanan pangan, mengukus juga membantu mengurangi asupan lemak trans yang biasanya didapat dari minyak goreng. Bagi penderita kolesterol tinggi atau mereka yang sedang menjalani program manajemen berat badan, metode ini adalah solusi paling aman untuk menikmati hidangan tanpa rasa bersalah. Pastikan peralatan kukus yang digunakan berbahan stainless steel atau bambu alami yang bersih guna menghindari kontaminasi zat kimia berbahaya saat suhu meningkat. (Tim)















