Britainaja – Kondisi psikologis Inara Rusli di kabarkan sedang berada di titik nadir. Mantan personel girlband Bexxa ini harus menghadapi hantaman masalah yang datang bertubi-tubi, mulai dari sengketa hak asuh anak dengan mantan suaminya, Virgoun, hingga persoalan asmara yang menyeret nama Insanul Fahmi ke ranah hukum.
Kombinasi antara tekanan publik dan urusan domestik yang tak kunjung usai membuat kesehatan mentalnya merosot tajam. Dalam konferensi pers yang di gelar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (4/2), tim kuasa hukumnya membedah secara transparan beban berat yang sedang di pikul ibu tiga anak tersebut.
Akses Bertemu Anak yang Kian Terbatas
Daru Quthny, salah satu kuasa hukum Inara, menjelaskan bahwa pemicu utama stres berat kliennya adalah keberadaan anak-anak yang kini berada di bawah penguasaan Virgoun. Meskipun secara hukum hak asuh seharusnya berada di tangan Inara, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Proses penjemputan anak yang tak kunjung berhasil menjadi pukulan telak bagi batinnya.
Situasi di persulit dengan adanya pembatasan akses komunikasi. Inara disebut sulit menemui buah hatinya, baik secara langsung di sekolah maupun sekadar melepas rindu melalui panggilan video. Daru menyayangkan prosedur kaku yang di terapkan pihak mantan suami, padahal sebagai ibu kandung, Inara semestinya memiliki kebebasan untuk bertemu anak-anaknya kapan saja tanpa harus terikat janji temu yang rumit.
Dampak Serangan Verbal dan Jejak Digital
Beban mental Inara semakin bertambah akibat serangan komentar negatif di ruang siber. Herlina, anggota tim hukum lainnya, menyoroti bagaimana pernyataan dari pihak keluarga Virgoun, khususnya Eva Manurung, memicu gelombang ujaran kebencian dari netizen. Narasi-narasi yang di anggap hoaks tersebut terekam dalam jejak digital yang sulit di hapus, sehingga terus menghantui kondisi psikis Inara hingga saat ini.
Di tengah kemelut tersebut, Inara juga harus bersiap menghadapi konsekuensi hukum atas laporan Wardatina Mawa terkait dugaan perselingkuhan dengan Insanul Fahmi. Meski didera ketidakpastian, Inara di kabarkan sudah menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk, termasuk jika harus kembali menyandang status sendiri dan berpisah dengan pendampingnya saat ini.
Mengapa Kasus Ini Begitu Pelik?
Secara sosiologis, apa yang di alami Inara Rusli merupakan potret nyata dari betapa destruktifnya konflik pasca-perceraian yang melibatkan anak (parental alienation). Dalam banyak kasus di Indonesia, anak sering kali menjadi “alat tawar” atau korban ego dari perselisihan orang dewasa. Tekanan ini menjadi berlipat ganda bagi seorang publik figur karena adanya pengadilan massa di media sosial yang sering kali menghakimi tanpa melihat fakta hukum secara utuh.
Bagi siapa pun yang berada di posisi serupa, dukungan profesional seperti psikolog atau konselor pernikahan sangat di sarankan untuk memitigasi trauma berkepanjangan. Selain itu, penting bagi semua pihak untuk mengedepankan kepentingan terbaik anak di atas kepentingan pribadi agar tumbuh kembang mereka tidak terganggu oleh drama orang tua yang tersorot kamera setiap hari. (Tim)















