Britainaja – Jagat media sosial belakangan ini di guncang oleh gelombang pencarian kata kunci “Video Golda Viral”. Tren ini bermula dari unggahan di TikTok yang kemudian merembet cepat ke platform X dan Instagram, memicu rasa penasaran massal di kalangan netizen. Banyak yang bertanya-tanya mengenai isi video berdurasi singkat tersebut, yang di klaim menampilkan konten tidak biasa melibatkan produk minuman kopi kemasan.
Narasi yang berkembang di kolom komentar menyebutkan adanya klip berdurasi 19 detik hingga isu mengenai versi panjang yang mencapai 6 menit. Spekulasi ini tumbuh subur karena banyak akun anonim yang sengaja menyebarkan potongan gambar atau thumbnail yang memancing klik. Namun, setelah di telusuri lebih dalam, keberadaan video asli yang memiliki konteks jelas justru sulit di temukan dan cenderung tidak valid.
Fenomena ini sering kali di manfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan tautan jebakan. Alih-alih mendapatkan video yang di cari, pengguna yang nekat mengklik tautan sembarangan justru berisiko terpapar serangan siber. Para oknum biasanya menggunakan teknik clickbait untuk menggiring orang ke situs-situs berbahaya yang berisi iklan mengganggu atau instruksi unduhan ilegal.
Bahaya paling nyata dari perburuan link semacam ini adalah ancaman phishing dan malware. Ketika seseorang mengklik tautan pendek (shortlink) yang tidak jelas, perangkat mereka bisa secara otomatis mengunduh file jahat. Lebih parah lagi, ada modus di mana pengguna diminta memasukkan data login akun media sosial atau perbankan dengan dalih sebagai syarat untuk menonton video, yang berujung pada peretasan akun.
Secara psikologis, tren “Video Golda” ini sukses besar karena memanfaatkan rasa takut ketinggalan informasi atau Fear of Missing Out (FOMO). Netizen cenderung mengabaikan akal sehat dan keamanan demi menjawab rasa penasaran yang di picu oleh tren di halaman For Your Page (FYP). Padahal, sebagian besar unggahan tersebut hanyalah strategi para pencari engagement untuk menaikkan jumlah pengikut atau kunjungan situs mereka sendiri.
Sebagai pengguna internet yang cerdas, sangat di sarankan untuk tidak ikut menyebarkan atau mencari-cari tautan yang tidak kredibel. Jika menemukan unggahan yang menawarkan link video viral, langkah terbaik adalah melaporkan konten tersebut sebagai spam atau penipuan. Keamanan data pribadi jauh lebih berharga daripada sekadar memuaskan rasa penasaran terhadap konten yang kebenarannya masih sangat di ragukan.
Kita harus menyadari bahwa tren viral di Indonesia sering kali memiliki pola yang serupa: muncul narasi ambigu, di ikuti penyebaran link masif, dan berakhir pada kerugian pengguna. Menjaga privasi digital dimulai dari ketelitian kita dalam memilah informasi. Selalu pastikan sumber berita berasal dari media resmi yang memiliki standar jurnalisme, bukan dari akun tanpa identitas di kolom komentar media sosial. (Tim)















