Britainaja – Goncangan geopolitik besar dari kawasan Amerika Latin mewarnai pembukaan pasar keuangan global di awal tahun 2026. Aksi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya di Caracas, menciptakan gelombang ketidakpastian baru. Para pelaku pasar kini bersiaga menghadapi potensi lonjakan harga komoditas penting seperti minyak mentah dan emas.
Kepala Riset sekaligus Ekonom Utama Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai situasi panas di Venezuela bakal memicu perilaku pasar yang cenderung mencari aman atau risk-off. Kecenderungan ini biasanya membuat investor berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke dolar AS, yang secara otomatis memberikan tekanan pada nilai tukar mata uang berkembang, termasuk Rupiah.
Meskipun demikian, Rully memprediksi gejolak ini tidak akan berlangsung dalam durasi yang lama. Dampak rambatan ke tanah air di perkirakan masih bisa di kendalikan. Situasi ini pun di proyeksi menjadi pertimbangan kuat bagi Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan di angka 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang di jadwalkan pada pertengahan Januari mendatang.
Secara fundamental, hubungan dagang antara Jakarta dan Caracas tergolong sangat kecil sehingga gangguan ekspor-impor tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi nasional secara signifikan. Sebagai gambaran, sepanjang sepuluh bulan pertama di tahun 2025, nilai ekspor kita ke Venezuela hanya menyentuh angka USD68,7 juta. Nilai tersebut bahkan tidak mencapai satu persen dari total ekspor Indonesia secara keseluruhan.
Hingga saat ini, komoditas yang rutin di kirim Indonesia ke negara tersebut meliputi sektor tekstil, produk kayu, peralatan listrik, hingga alas kaki. Sementara dari sisi impor, Indonesia hanya mendatangkan bahan kimia tertentu dan plastik dalam jumlah terbatas. Rendahnya ketergantungan ini membuat Indonesia memiliki bantalan yang cukup kuat terhadap konflik internal yang terjadi di sana.
Pasar modal dalam negeri sendiri menunjukkan performa yang cukup solid pada penutupan perdagangan perdana tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat hingga 1,2% ke level 8.748,1 dengan dukungan aliran dana asing yang mencapai Rp1,1 triliun. Angka ini mencerminkan optimisme investor lokal yang belum sepenuhnya goyah oleh berita penangkapan Maduro di New York.
Mengapa Minyak Tetap Menjadi Kunci? Walaupun ekspor langsung kita kecil, pergerakan harga minyak dunia akibat konflik Venezuela tetap harus di waspadai. Venezuela merupakan salah satu pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Intervensi AS yang menyatakan akan mengambil peran utama dalam masa transisi kekuasaan di sana bisa memicu spekulasi pasokan energi global. Jika harga minyak dunia melambung tinggi akibat ketegangan ini, beban subsidi energi dalam APBN kita berisiko membengkak, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kebijakan fiskal pemerintah di sisa tahun 2026.
Dalam situasi geopolitik yang fluktuatif, di versifikasi aset menjadi kunci utama. Emas tetap menjadi instrumen perlindungan nilai yang paling di rekomendasikan saat terjadi penangkapan kepala negara atau konflik militer. Selain itu, tetap perhatikan rilis data inflasi domestik dan keputusan Bank Indonesia akhir bulan ini, karena kebijakan suku bunga akan jauh lebih menentukan arah pasar saham kita di bandingkan sentimen jangka pendek dari Amerika Latin. (Tim)















